Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (3)

Bismillah~

Hari ketiga ini masih mencoba untuk membiasakan apa yang Fatih sudah bisa. Apa aja? Ya macem-macem. Makanya saya gak ambil spesifik karena kegiatannya fleksibel sesuai kegiatan harian saat itu. Yang jelas, tujuannya adalah membiasakan Fatih untuk melakukan sendiri sesuatu yang memang doi sudah bisa.

Mengambil buku ataupun mainan sejauh ini sudah sendiri. Shalat hari ini alhamdulillah dapet kesempatan untuk shalat bareng sama papanya, weekend cuy. Terus apa dong ya? hmmm...

Papanya Fatih itu lebih baik dalam hal ngegambar daripada mamanya Fatih. Berbentuklah ya, wkwkwkwk. Jadi kalau urusan gambar menggambar atau ngotak-ngatik lego biasanya Fatih main sama Papanya. Karena hari ini papanya libur, ada di rumah dong ya, etapi abis sarapan gak berapa lama doi tidur lagi. Masih cape kali ya gegara kerjanya jauh sekarang mah *uhuk. Padahal, Fatih udah ambil papan magnet untuk gambar-gambar.

Daripada bangunin papanya yang lagi tidur, yaudah deh saya minta aja Fatih gambar sendiri. Ternyata maunya doi nyebutin apa yang mau digambar dan saya yang gambar. Ealaaaah. Maunya sih, kalau Fatih suka sesuatu, tertarik sama hal itu, ya dia lakuin itu sendiri. Kaya menggambar nih, doi sering amaze sama gambaran papanya terus pingin niru, ujung-ujungnya bilang ga bicaaa~ Nah kali ini daripada Fatih liat gambaran saya yang beda rupa dengan di angan akhirnya saya ajak main tebak-tebakan aja mau gambar apa.

👩 : "Kak, kaka mau gambar gajah bukan?"
👦 : "Bukan."
👩 : "Gambar ikan bukan?"
👦 : "Bukan."
👩 : "Gambar apa dong?"
👦 : "Kaka gambar apa cobaaa~"

Terus doi cengengesan sambil ngegambar.


1-2 gambar hapus gambar hapus terus dilakuin sambil ketawa-ketawa gak jelas apa yang dia gambar. Katanya mau gambar balon, tapi gak mirip balon, hahaha. Pokoknya sebisa mungkin kita menemani dan terlihat antusias sama hasil gambaran doi. Biasanya doi abis itu marah-marah bilang, "Ga bicaaa cama mama ajaaa~" yang ini mungkin karena sayanya antusias, keliatan penasaran, akhirnya Fatih mau gambar sendiri gak melulu minta digambarin. Alhamdulillah ya ternyata ini sih kuncinya ada di saya yang harus rajin encouraging dan menikmati prosesnya.

Mungkin saya mau lihat satu hari lagi apa Fatih bisa konsisten melakukan apa yang sudah dia bisa atau ternyata balik lagi apa-apa harus sama mama, sebelum pindah fokusnya ke toilet training yang mudah-mudahan berjalan lancar dan bisa segera lulus 😂

#hari3
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.