Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (5)

Bismillah~

Hal yang tak terlupakan dari hari ini adalah ku harus mencuci bantal jam setengah 3 subuh 😂 Kondisinya saya lagi di kamar mandi jam segitu. Fatih yang di kamar tiba-tiba bilang, "Kaka pipis" beberapa kali. Untuk make sure saya panggil suami untuk ngecek takutnya Fatih mau pipis, dan ternyataaaa emang udah pipis di bantal 😭 Yah yasudahlah ya, dua hari ini kebobolan Fatih pipis di kasur.

Drama per toilet training-an belum muncul karena sampai hari ini Fatih belum pup, padahal udah makan buah naga juga. Yang bikin saya mikir adalah ketika sore ini kita ke pasar, ya biasa Fatih disuruh pipis dulu. Pulang dari pasar kita naik becak, terus Fatih saya suruh tunggu di rumah, sayanya lanjut ke warung sebelah buat beli air minum. Pas balik lagi ke rumah, anakku udah nungguin depan pintu kamar sambil bilang, "Ma kaka *#@$@/-?"+$ pipis". Mamak yang shock udah ngira doi pipis di celana, udah membayangkan pipis  di surpet yang baru aja ku pasang lagi. Etapi doi tiba-tiba bilang lagi, "Ma kaka *#@$@/-?"+$ pipis". Saya minta anak ulangi lagi sambil mendekat. Ternyata doi pingin pipiiiiis dan akhirnya ditahan sampe saya balik dari warung. Wah salah saya nih, Fatih bisa masang celana tapi hampir gak pernah buka celana sendiri apalagi celana panjang. Jadinya ya gini, harusnya doi bisa pipis tanpa harus nahan, ehhh malah gak bisa buka celananya. Berarti jelas nih, target selanjutnya harus bisa lepasin celananya.

Hari ini jadinya coba praktekin Fatih untuk buka celana sendiri pas mau pipis, alhasil belum lancar juga sih, not bad lah, nanti juga pasti mengerti.

So, welcome to Fatih's Toilet Training journal~

#hari5
#gamelevel2 
#tantangan10hari 
#melatihkemandirian 
#kuliahbundasayang 

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.