Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (2)

Bismillah~

Setelah menyelesaikan hari pertama dengan mengaplikasikan "jangan buru-buru memberikan pertolongan," ternyata cukup ada efeknya pada Fatih. Frekuensi meminta tolong sesuatu yang sebetulnya bisa dilakukan oleh Fatih berkurang dari pagi hingga malam. Selain itu, hal itu juga berlanjut sampai hari ini! Yak, konsisten adalah "koentji" ~

Kemarin, suami bertanya pada Fatih, "Kakak, udah shalat belum?" Ternyata jawaban Fatih adalah, "Belum, kaka shalat cama mama." Laaah mamak lagi gak shalat terus ya gimana kan? huhuhu. Ya karena suami kerja dari pagi sampai malam, Fatih cuma bisa shalat bareng mamanya. Jadi kepikiran nih, sebetulnya Fatih udah sering ikut shalat, cuma ya belum pernah shalat sendiri. Padahal doi paling rajin ingetin mamanya, "Ma, udah adzan." Kenapa gak kepikiran ya untuk membiasakan Fatih shalat sendiri aja.

Hari ini saya coba Fatih untuk mau shalat sendiri. Waktu Dzuhur, diajak shalat masih belum mau, maunya sama saya. Akhirnya ya shalat bareng karena pas sayanya juga udah shalat, hehe. Pas Ashar, masih belum mau shalat sendiri, akhirnya ya sudah sama-sama lagi. Maghrib, tanpa disuruh Fatih langsung ambil posisi shalat dan shalat ngeduluin saya, hahaha. Nah, pas Isya, ternyata saya gak langsung shalat setelah adzan. Saya coba minta Fatih untuk shalat duluan, "Kak, coba kakak shalat duluan ya, mama bersihin dulu bekas kecoanya." Iya habis ada pembantaian kecoa tadi tuh, ckckck. Daaaan doi mau! Empat rakaat tanpa tahiyat awal dan suara dinyaringkan semua, hahaha. Akhirnya saya pura-pura kaget pas Fatih selesai salam, "Wah kakak hebat ih bisa shalat sendiri yaaa! Baca Fatihah sama Qulhu tadi hebaaaat!" Anaknya pun cengengesan~

Setelah itu, saya minta Fatih untuk shalat ulang buat saya rekam, bilangnya buat ke papah sama ke enin, eh doi langsung mau dan ngasih aba-aba untuk rekam, hahaha. Tanpa disuruh dan diarahin alhamdulillah Fatih bisa praktek shalat sendiri meskipun ruku dan sujudnya dikebut dan i'tidal diskip.


Yaa namanya juga masih belajar, yang penting anaknya mau aja dulu. Mudah-mudahan jadi modal awal biar kebiasa shalat dan nanti mah bukan mandiri disuruh shalatnya, tapi mandiri tanpa disuruh udah pergi shalat ke masjid ya :") Anaknya belum ngerti? Ya gak apa-apa. Pasti ada kok nilai yang tertanam dari pembiasaan sejak kecil. Bismillah aja, semoga membawa kebaikan. Semangat!

#hari2
#gamelevel2 
#tantangan10hari 
#melatihkemandirian 
#kuliahbundasayang 

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.