Skip to main content

Aliran Rasa Game Level 1 - Komunikasi Produktif

Bagi saya, game komunikasi produktif adalah pembiasaan mengendalikan diri. Apakah saya sebatas tahu teorinya atau MAU mengaplikasikan teori tersebut.

Secara tidak langsung, game ini membuat saya "sadar" dalam berkomunikasi. Saya memiliki pilihan untuk ikut ego saya atau ikut saran-saran komprod yang sebelumnya sudah dibekalkan.

Contohnya, ketika Fatih pup, saya memiliki pilihan untuk menunjukkan kekesalan atau bersabar karena anak sedang belajar. Kadang, saya tahu bahwa saya harus tetap tersenyum dan terus sounding anak agar mau pup di kamar mandi. Kenyataannya, meskipun saya tahu hal tersebut, ada bagian dari diri saya yang ingin menunjukkan pada anak bahwa saya kesal, tidak suka kalau ia pup di celana. Inilah yang pada akhirnya harus saya kendalikan. Saya tahu mana yang benar, maka sudah seharusnya hal itu yang saya lakukan.

Setelah mencoba melakukan mengendalikan diri melalui komunikasi produktif, akhirnya saya lebih sering berfokus pada solusi daripada terjebak membahas masalahnya terus menerus. Yang pada akhirnya membuat komunikasi lebih lancar dan masalah yang ada terselesaikan dengan baik.

#AliranRasaKomunikasiProduktif
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.