Skip to main content

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa setiap hari itu adaaaaa saja drama yang dibuat si sulung ini. Kesal seharian, lalu menyesal di malam hari. Begitu akhir-akhir ini.

Sekarang jam sudah menunjukkan 00:02. Sudah tanggal 29 Agustus, sebentar lagi pendaftaran TK anak kedua. Tanpa rewel minta dikeloni, anaknya sudah bisa tidur sendiri tadi. Tidurnya nyenyak, dengan posisi default ada anggota badannya yang harus antel dengan adiknya. Badannya hampir sama besar, sedikit kurus tapi lebih tinggi sedikit dibanding adiknya. Aku mencelos, ternyata anakku ini sudah besar, sudah mau masuk TK. Rasanya sedih sekali banyak hal yang aku lewatkan di masa tumbuh kembangnya. Apa yang sudah aku beri? Dia tidak mendapat sebanyak apa yang kakaknya dapat seusianya. Jangankan menulis dan membaca, mengucapkan kata dengan S di depan dan tengah saja dia belum bisa. 

Setiap malam, setiap hari, pikiran ini selalu berlomba membuat daftar capaian agar anak-anak tetap terfasilitasi. Setiap pagi, setiap hari, badan dan pikiran selalu bertentangan setelah bergelut dengan urusan dapur dan ruang tengah. Rasanya sudah terlalu lelah untuk hadir di tengah mereka. Rasanya semua berantakan ketika daftar capaian itu tidak terpenuhi. Aku terlalu banyak berekspektasi, membuat standar dan prioritas yang nyatanya tidak ideal di rumah ini. Aku terlalu mendengar omongan orang, yang bahkan merekapun belum tentu bisa jika mengalami sendiri. Aku, terlalu keras pada diriku sendiri.

Siklus berulang ini sudah seperti lingkaran setan. Rasa bersalah karena tidak bisa menjadi ibu dan istri yang sempurna, membuat aku terus berusaha untuk bisa memenuhi standar A, B, C, hingga Z. Pun ketika standar itu tidak terpenuhi, hadirlah lagi rasa bersalah. Terus begitu.

Setiap malam, setiap hari. Semoga aku bisa berbenah diri.

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.