Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior.
Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan.
Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana.
Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya.
Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu?
Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba.......
Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semakin mawas diri. Setiap kata yang terucap diolah sedemikian rupa, tersangkut pada pikiran yang semakin kusut.
Menghadap cermin yang tersisa hanya wajah yang tertekuk. Semakin terasa bahwa tidak ada hal yang bernilai dalam diri. Penuh kelemahan, penuh kekurangan, penuh ketidaktahuan, penuh ketidakmampuan. Katanya tidak perlu validasi, tapi yang didapat hanyalah evaluasi, lagi dan lagi. Di cermin itu yang terlihat hanyalah kemunduran. Usaha yang dikerahkan masih terasa kurang. Progress selama ini masih belum memenuhi standar. Terlalu banyak lubang yang harus ditambal.
Ekspektasi itu hanyalah elegi. Membawa diri jatuh ke jurang terdalam. Sama seperti interaksi saat ini. Memberi ketakutan pada mereka yang senantiasa menyembunyikan topengnya. Begitu manis di depan, tapi lain hal ketika berbicara dengan orang. Apakah kita juga diperlakukan sama? Memaklumi di depan, lalu digunjing di belakang. Lagi, semakin sepi dan kerdil diri ini.
Comments
Post a Comment