Skip to main content

Prioritas

Burn out. Istilah zaman sekarang katanya sih itu. Rasanya jadi seorang perempuan, banyak tuntutan. Kewajibannya bejibun. Kalau terjadi sesuatu, pasti kesalahan istri/ibu. Anak salah seragam, salah ibu. Kan tugas ibu untuk memantau anaknya. Pengeluaran membengkak karena sering beli makanan, salah kita lagi. Kan udah tugasnya untuk masak. Jadi, dalam satu hari dari buka mata sampai tutup mata list kerjaannya sudah menanti.

Kadang, ada hal yang sebetulnya bisa dikerjakan anggota keluarga lain, tapi tetap dibebankan pada si perempuan. Kalau gak sempat dikerjakan, ya udah pasti yang disalahkan perempuan. Selalu disinggung menentukan skala prioritas, yang pada akhirnya disadari bahwa dirinya sendiri sudah tidak ada di top list priority. Untuk makan terutama makan pagi dan malam saja sering diskip karena memprioritaskan yang lain. Pun begitu, masih saja ada yang berkomentar loh kok jam segini baru makan? Kok jam segini baru mandi? Kok begini? Kok begitu? Harusnya begini dong, bukan begitu. Komentar yang terlontar tanpa tahu apa yang sudah kita kerjakan, apa apa yang harus kita selesaikan, sendirian tanpa bantuan.

Akhir-akhir ini bisa memprioritaskan diri untuk olahraga karena sudah sampai di titik, "Aku juga mau sehat, aku juga mau olahraga. Masa aku gini gini aja?" Itupun berangkat setelah memasak, beres-beres rumah, memandikan anak-anak, pokoknya rumah siap ditinggal. Buat suami, yang penting anak-anak udah beres, makanan untuk anak udah tersedia. Kalau gak sempat masak untuk suami, untungnya paham jadi gak ambil pusing tinggal beli sendiri. Yang pusing kalau belum ada makanan untuk anak atau ada makanan tapi perlu disuapin. Udah deh bisa-bisa blas anak-anak skip makannya. Pokoknya, syarat dan ketentuan berlaku. Ya gitulah kalau perempuan yang mau berangkat. Kondisi rumah harus aman.

Sudah olahragapun ternyata masih dicibir juga. Ikut poundfit karena olahraga itu tuh menarik. HIIT sejam lebih, tapi kuat. Dulu suka nari, ikut PF berasa ada tempat buat bergerak ngikutin beat lagu lagi. Merasa ada wadah untuk luapin emosi karena bisa gebuk matras sambil teriak-teriak. Buktinya, bisa konsisten ikutan kelas dari Desember 2023. Sayangnya, masih ada yang bilang poundfit itu olahraga abal-abal. Sayangnya, selalu dibandingin dengan ngegym. Giliran kitanya mau ngegym, ga ditanggapi serius juga. Masih sering dibilang gendutlah, gede lah, ya fakta sih, hahaha. Still, I hear those words often and it goes deep inside me. Kadang pas PF liat di kaca, am I that big? am I that ugly? Why do I feel this way? Not to mention I have no confident about my body. Sometimes, I look at others. They might be bigger than me, but they look fine. I might be not that big, but it feels so wrong. I wanna change, but how? Ya tapi balik lagi, what's your priority? Yang penting bisa olahraga dulu atau emang targetting that body goals.

It's midnight and I start talking non sense. Ya intinya, do I put my priorities right? 

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.