Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (6)

Bismillah~

Fatih hattrick ngompol di kasur~ Horeee~ Seprai udah macam cuci kering pake aja ini :")

Toilet training Fatih masih berlanjut dan sekarang lagi belajar buat buka celana sendiri. Kebiasaan saya yang kalau Fatih bilang mau pipis langsung nyamperin dan buka celananya ternyata jadi godaan juga 😂 Meskipun Fatih udah bisa pakai celana sendiri, tapi kalau buka celana mamaknya yang masih suka kurang percaya. Bawaannya buru-buru, takut gak ketahan dan jadi pipis di tempat gitu. Jadi PR deh sekarang~

Karena sayanya yang masih suka was-was, saya coba ajarin Fatih pas mau mandi supaya lepasin celananya sendiri. Kalimat pertama yang keluar adalah, "Ga bicaaaaa." Kuncinya adalah......sabar~ Untung pas mau mandi, jadi tenang gak takut bablas pipis gitu kan 😂 Saya ganti kalimatnya dengan, "Eh mana karet celana kakanya?" Doi pun liat celananya dan pegang karetnya sambil bilang, "Ini." Abis gitu ya perintah-perintah selanjutnya sebisa mungkin bikin anak penasaran. "Karetnya bisa diturunin gak sih? Coba ka bisa diturunin ga? Eh ternyata bisa yaaa~" Sisanya pas celana sampe mata kaki, doi tendang-tendang biar lepas 😆

Setelah itu, jangan lupa bilang, "Wiih hebat celananya jadi lepas ya? Kaka bisa kaaaaan~" Terus anaknya cengengesan~

Anaknya pasti bisa sih asal dibiasain. Cuma mamaknya aja yang masih belum percaya kalau anaknya mau pipis, takut kelamaan bukanya, hahaha. Yak mari kita coba lagi besok kalau begituu~

#hari6
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.