Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (4)

Bismillah~

Pagi ini, kebangun denger suami bilang, "Aaaah Fatih pipis." Kesadaran meningkat sedikit-sedikit meratapi nasib harus bersihin kasur dan nyuci seprai padahal baru ganti 😭 Akhirnya aktivitas pagi dimulai lebih awal~

Setelah setengah mandi, Fatih balik ke kamar, dibaju dicelana. Beres shalat segala macem Fatih ditinggalin aja ama bapaknya, mamak bawa cucian ke kamar mandi. Jadwal cuci pakaian yang digusrek 😂

Lama nyuci, Fatih datang minta minum. Tangan penuh sabun dong ya, disuruhlah Fatih minta tolong ke papanya. Lama setelah itu hening lagi dan saya pun khusyu nyuci. Beres nyuci, saya balik ke kamar. Daaaaaaaan ternyata anakku main sendiri, bapaknya tidur 😂 Gak sia-sia sih dari kemarin ngebiasain Fatih ambil buku dan mainan sendiri. Terus meyakinkan diri juga kalau doi bisa ko melakukan sesuatu sendiri. Itung-itung nyicil biar tahun depan, atau tahun depannya lagi siap buat sekolah. Jauh amat ya mikirnya 😂

Pas disamperin, Fatih lagi main lego bikin kereta api sendirian. Lihat mamanya datang doi pun beresin legonya, terus ambil mainan mobil yang bisa berubah jadi robot biar bisa main bareng sama mamanya. Terharu aku tuu 😭


Mungkin sekarang belum bisa bantuin mamanya langsung, tapi dengan mau cari kegiatan sendiri dan nungguin mamanya selesai nyuci udah jadi sebuah bantuan buat mamaknya. Gak direcokin gitu maksudnya :")

Alhamdulillah~

#hari4
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.