Skip to main content

Game Level 4 - Gaya Belajar Anak (2)

Bismillah~

Seperti hari-hari lainnya, Fatih banyak menghabiskan waktu di rumah sama saya. Ruangan yang sering dipakai itu kamar, jadi ya semua mainan, buku, dan lain-lainnya kebanyakan ada di kamar utama. Berhubung saya, Fatih, dan suami memasuki waktu bagian mulai-berasa-cape-dan-sakitnya pasca Karawang-Bandung-Ciamis-Bandung-Karawang dalam 3 hari, akhirnya kegiatan di rumah setelah selesai cuci mencuci adalah istirahat, gogoleran aja gitu, hahaha.

Saya belum lanjutin hafalan Fatih, bener-bener break dari segala target pembelajaran. Nah akhirnya jadi ada bahan untuk observasi anak. Tidak ada target, tidak ada stimulus, pokoknya terserah anaknya mau ngapain aja hari itu. Daaaan ternyataaaaa... ya sama-sama aja kaya hari-hari biasanya. Gak jauh-jauh dari buku, drawing board, mobil-mobilan, dan lego 😂

Setiap kali Fatih main drawing board, itu bisa anteng sampai 30 menit - 1 jam. Pokoknya dari saya awal saya tinggalin cuci gusrek sampai beres itu anaknya masih anteng tulis-tulis dan gambar disitu. Tulisnya tulis apa? Gambar apa? Ya apa aja yang dia mau. Dari huruf abjad ABC besar, ABC kecil, hijaiyah, angka, dia tulis. Kalau bosen dia ganti gambar kereta, pesawat, dede bayi, papa, atau ya abstrak aja gitu. Kalau lagi iseng, dia bisa nulis atau niru tulisan yang ada di sekitarnya.
Meniru Tulisan di Buku
Selain itu, Fatih juga senang main mobil-mobilan. Mobilnya kebilang jarang untuk dijalanin, lebih sering dibuat baris (macet katanya). Selain itu, kebiasaannya adalah mengurutkan mobil dari yang kecil ke yang besar, sesuai jenisnya, dan harus menghadap ke arah yang sama. Saya kadang takut perfeksionisnya saya nurun ke Fatih, hahaha.
Membariskan mobil-mobilan
Itu foto waktu kapan tapi masih relevan kok sampai sekarang, haha. Ya gitu deh, kerjaannya barisin mobil-mobilan serapi itu. Selain itu, kalau Fatih main lego, legonya disusun rapi memanjang atau ke atas. Jadi tidak ada yang bolong (kecuali buat jendela) atau berat sebelah, rata aja gitu. Dan main lego pun sudah bisa membuat kereta api atau mobil atau pesawat a la Fatih. Yang saya perhatikan adalah susunannya yang rapi, doi gak suka kalau panjangnya gak sama. Hmmm, apakah ini pertanda? 🤔

Baru-baru ini papa Fatih beli mainan, buaya-buayaan sama pop-up pirates gitu. Terlepas dari mainannya yang sebetulnya emang buat mama papanya, ternyata anaknya malah anteng sendiri mainin bubble bekas bungkusan mainannya 😂

Pecahkan gelembungnya!
Oh ya, selama bermain itu Fatih sering berbicara, baik sendiri maupun sambil berbicara pada saya. Misal dalam menulis ABC, Fatih akan mengulang-ulang setiap huruf yang telah ditulisnya. Atau ketika menggambar kereta, Fatih akan menggambar garis sambil menjelaskan ini relnya, ini matanya, ini pintunya.

Hmm, dari 3 kegiatan tersebut dapat terlihat:

1. Visual
-Memperhatikan penampilan (Rapi dalam menyusun lego dan mobil, menulis dengan tata letak yang sama dengan sumber tulisan)
-Senang menulis atau menggambar (Bermain drawing board)
-Tidak mudah terditraksi dengan keramaian (Fokus lebih dari 15 menit untuk seusianya pada satu kegiatan, misalnya saat menulis, menggambar, memecahkan bubble)

2. Auditori
-Senang mengeluarkan suara saat melakukan sesuatu (Saat menggambar, menulis, main lego seringkali sambil berbicara atau menirukan apa yang dikerjakannya)

3. Kinestetik
-Menyukai permainan yang menyibukkan (Bermain lego, menggambar, main mobil yang banyak dan lama).

Waw, ternyata lebih banyak visual ya? Coba kita observasi lebih lanjut, kebetulan ada rencana keluar rumah juga. Siapa tau di rumah adem ayem, pas keluar jiwa kinestetiknya keluar, hihi.

Ciao~

#harike2
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.