Skip to main content

Game Level 4 - Gaya Belajar Anak (1)

Bismillah~


Olaaa~ Selamat datang di game yang baru~ Kali ini, tantangan yang disuguhkan adalah menemukan gaya belajar anak agar kita sebagai orang tua dapat melakukan pendampingan dengan tepat 👍

Berdasarkan materi BunSay mengenai gaya belajar anak, secara garis besar masing-masing gaya belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut.


Berhubung anakku baru satu dan usianya saat ini 3 tahun 3 bulan, jadi hal yang paling mungkin dilakukan adalah observasi, kira-kira condong ke gaya belajar yang mana nih di antara 3 itu. Usianya memang masih ada di tahap eksplorasi, sih, tapi mengingat lagi di fase golden age, jadi kayanya perlu juga lihat gaya belajar yang dominan saat ini supaya nilai-nilai dasar yang ingin kita tanamkan bisa terserap dengan optimal.

Rencananya saya akan melakukan observasi beberapa hari dilanjutkan dengan "uji coba". Observasinya dilakukan di dalam rumah dan di luar rumah, tanpa target, hanya melihat reaksi anak terhadap suatu kegiatan dan keadaan. Uji coba jadi semacam validasi apakah gaya belajar tersebut memang dominan dan cocok pada Fatih atau tidak. Yang diujikan diambil dari beberapa target di family project level sebelumnya. Gak akan muluk-muluk sih, let it flow aja, hehe. Yang penting anak mengeksplor dengan hati senang, sukarela, dan kitapun tidak "memaksa" anak untuk nyaman di semua gaya belajar. Just, let's find his learning style~

Langkah selanjutnya adalah observasi, semangaaat~

#harike1
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.