Skip to main content

Game Level 4 - Gaya Belajar Anak (6)

Bismillah~

Sejauh ini saya sering menjelaskan rencana mudik kami pada Fatih agar Fatih tahu akan kemana kami pergi. Misal nanti sore naik bis ke rumah enin, terus besok ke rumah umi, besoknya lagi ke enin lagi, terus pulang deh ke rumah kakak. Begitupun saat kami ke Yogyakarta. Nah kali ini saya coba menguji kemampuan auditori Fatih apakah betul ingat dan paham atau tidak dengan memberi daftar belanja secara lisan. Kebetulan stok beberapa bahan di rumah sudah habis dan Fatih juga ingin ikut ke pasar. 

Saya minta Fatih pakai sendal sementara saya minum dahulu, eh Fatih malah pake sepatu boots, "Kata enin kalau ke pasar pake iniiiii," begitu katanya 😂

Inisiatif pakai boots sendiri
Ganti celana terus pakai boots sendiri
Sebelum berangkat ke pasar, saya coba menyebutkan apa saja yang akan saya beli.
M : "Kak, nanti ingetin mama yaa. Mama mau beli mangga, terus beli telur, terus beli terigu, terus beli timun."
F  : "Beli apa mama?"
M : "Beli mangga dulu. Terus beli telur. Abis itu beli terigu. Terus beli timun. Pulang deh."
F  : "Oh gituu."

Selama di jalan ke pasar, Fatih mengulang-ulang tujuan awal kami di pasar.
F  : "Mama, sekarang beli mangga dulu?"
M : "Iyaa."
...
F  : "Mama, ini mau ke tempat mangga?"
M : "Iya beli mangga dulu yaa."

Selama perjalanan Fatih ceria meskipun ada anak kecil sama ibunya yang ngetawain Fatih pakai boots 😤 Sampai di tukang buah-buahan Fatih langsung menunjuk buah mangga. Selagi saya memilih, Fatih melihat manggis dan mulai kasih kode, "Mama, itu manggis?" Sambil mengiyakan saya lanjut memilih -milih lagi. Melihat Fatih yang matanya terpaku pada manggis akhirnya saya tanya harga ke mamangnya. Mamangnya mungkin tahu daritadi ini anak lihatin manggis, eh dikupasin manggis 1 terus dikasih ke Fatih  😂 Jadilah saya gak enak, beli deh manggisnya. Yang buat Fatih bonus katanya, masyaAllah, alhamdulillah. Setelah beli malah Fatih yang protes, "Kok beli manggis, mama? Kan mama mau beli mangga?" Ya saya jawab aja buat Fatih. Ini Fatih cocok dibawa belanja kayanya, mengingatkan mamanya kalau-kalau kalap belanja malah beli ini itu 😂

Selanjutnya Fatih juga yang mengingatkan saya kalau setelah beli mangga, kami akan beli telur dan terigu. Selesai dibeli, saya memutuskan untuk membeli bayam lalu pulang. Lalu Fatih mengingatkan lagi kalau saya belum beli timun. Ahh saya lupa bilang kalau tukang timunnya gak ada, tutup, jadi gak jadi beli. Barulah Fatih ber-oooh.

Sore harinya saat saya memetiki Bayam, Fatih bilang ingin membantu. Ternyata sambil memetiki bayam doi murojaah sendiri tanpa diminta. 


Dari kegiatan hari ini:

1. Visual
-Mengenal objek yang pernah dilihat (Menunjuk mangga)

2. Auditori
-Mengingat perintah lisan (Pesan dari enin pakai sepatu boots, daftar belanja ke pasar)

3. Kinestetik
-Melakukan sesuatu sambil bergerak (Memetiki bayam dan murojaah)

Saya sebetulnya gak tahu sih Fatih auditorinya yang kuat atau apa yang dia dengar dia gambarkan di kepalanya seperti peta. Yang jelas terlihat Fatih bisa fokus pada yang dikerjakannya. Hmm, menarik...

#harike6
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.