Skip to main content

Game Level 4 - Gaya Belajar Anak (10)

Bismillah~

Sudah hari kesepuluh :")
Memasuki minggu-minggu padat rasanya fokus saya pada Fatih berkurang. Serasa banyaaaak banget yang harus dikerjakan, jadinya Fatih kadang main sendiri atau justru bantu saya.

Hari Sabtu ini karena papanya gathering, jadi Fatih saya ajak ikut ke kajian. Alhamdulillah selama kajian Fatih anteng dengan drawing boardnya tanpa harus saya dampingi.


Fatih menggambar apapun yang dia tahu, mulai dari alfabet, hijaiyah, angka, gambar kereta, menulis beberapa kata, dan meniru tulisan yang ada di sekitarnya. Kajian berlangsung selama 2 jam, alhamdulillah Fatih bisa mengikuti meskipun diakhir-akhir mulai gak bisa diam, loncat-loncat dan jalan-jalan kesana kemari.

Sorenya, kami menjemput papa ke kantor area. Waaaa dibawain angklung~ Fatih excited karena ini alat musik yang belum pernah dia lihat. Doi cuma lihat di video yang papanya kirim semalam waktu lagi mainin angklung.

Sesampainya di rumah, Fatih langsung ingin mencoba angklungnya. Pingin kaya di video papa katanya. Diajarilah mainnya~ Meskipun kaku, Fatih bisa memainkan angklung tersebut ketika dicontohkan beberapa kali. Ah sayang gak ada dokumentasinya :(

Selain itu, Fatih tidur malaaaam sekali. Salah satunya karena keasyikan gambar rumah di Sketch Up.

Mewarnai denah rumah
Betul lho ya anak itu peniru ulung. Kebiasaan saya desain dilihat dan ditiru oleh Fatih. Bahkan udah bisa bikin objek 3D dan mewarnainya.

Dari 10 hari pengamatan gaya belajar Fatih, dapat diambil kesimpulan:

1. Visual
-Mementingkan penampilan: Kerapian, keserasian.
-Senang menulis dan menggambar
-Memiliki fokus yang tinggi
-Mengingat apa yang pernah dilihat
-Senang membaca
-Senang mengobservasi dan mengidentifikasi sekitar
-Meniru apa yang dilihatnya.

2. Auditori
-Berbicara sendiri saat melakukan sesuatu
-Dapat mengingat apa yang didengarnya
-Senang reading a loud, membaca dan mengeja keras-keras
-Jika berbicara iramanya berpola
-Dapat mengingat perintah lisan
-Dapat meniru dan membedakan suara-suara yang pernah didengarnya

3. Kinestetik
-Menghafal sambil melakukan sesuatu
-Berbicara diikuti mimik wajah dan gerak tubuh

Wah, visualkah? Atau saya ada yang miss nih apalagi di bagian kine, huhuhu..

Sejauh ini memang sih terlihat bahwa Fatih lebih bisa menyerap sesuatu secara visual dan auditori. Sedangkan kinestetiknya ada namun tidak dominan. Kebanyakan anteng anaknya :|

Alhamdulillah, semangat belajar yes!


#harike10
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbundasayang


Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.