Skip to main content

Game Level 4 - Gaya Belajar Anak (8)

Bismillah~

Masih eeeaaa for Indonesia~
Alhasil hari ini saya sama Fatih banyak leyeh-leyeh nonton Indonesia Open. Tumpukan baju di depan, mata tetep tertuju ke TV 😂


Ah sebelum itu pagi-pagi Fatih main lego. Gak tau deh bikin apa aja, pokonya pasang bongkar pasang bongkar aja gitu. Setelah itu Fatih manggil saya, saya disuruh lihat hasil karyanya.

Disitu Fatih menjelaskan kalau doi baru membuat helikopter dan ditunjukkan bagian-bagiannya. Biasanya, Fatih menyusun lego dengan papanya. Sepertinya terinspirasi sama buatan papanya, jadilah doi bikin versinya sendiri.

Siang sampai sore mamak gak produktif, maaf yaaaaa, huhuhu. Indonesia Open mengalihkanku 😭 Selesai acara badminton Fatih ambil alih, langsung stel Asmaul Husna. Malulah kau, Den, anakmu lebih rajin dengerin murottal :(


Asmaul husna ini gak pernah diajarin. Jadi ya diperdengarkan saja berulang-ulang. Hasilnya, beberapa Fatih tebak lalu diikuti. Paling dikoreksi dikit-dikit di bagian akhirnya.

Dari 2 kegiatan utama hari ini, didapat:

1. Visual
-Memperhatikan penampilan (rapi dalam menyusun lego hingga membentuk sebuah objek)
-Menjelaskan objek (Helikopter yang dibuat)

2. Auditori
-Meniru yang pernah didengar (Asmaul Husna)
-Mengikuti irama (Asmaul Husna)

3. Kinestetik
-Senang kesibukan (Bongkar pasang lego)

Akhir pekan hingga pekan depan bakalan sibuk, semoga masih maksimal dalam mengamati gaya belajar anak :"(

#harike8
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.