Skip to main content

It's (not) About Money

Yuhuu~ Salah satu resolusi 2020 akhirnya ada juga yang kesampaian: Mencatat keuangan!


Setelah hampir 5 tahun berumahtangga, catatan keuangan itu ada, tapi gak pernah lengkap dan ujung-ujungnya yaudah deh entah kemana uang melayang~ Alhamdulillah Januari-Maret ini catatan pengeluaran komplit plit plit (dari sisi aku) dan akhirnya bisa ngaca, eh lo ada uang dipake apa ajaaaaa~


Iya kakaa~ Beli sambel aja sampe ditulisin 😆 Dan betul ya kata Bang Rhoma:
Kalau sudah tiada, baru terasa~
Dari awal nikah, gaji dan tabungan itu ada di tempat yang berbeda, tapi ujung-ujungnya selalu kepake dua-duanya 😅 Dan yang paling besar pengeluaran itu adalaaaaah: Makanan! Pinsip suami yang menular adalah gak sayang uang kalau buat makanan 😂 Tiap akhir pekan jadinya sering jajan di luar, itung-itung makan enak setelah 5 hari makan masakan aku, wkwkwk.

Kebobolan banget waktu masih belum punya rumah, uang melimpah #tsaaah, jadi pengeluaran ya sesuai kebutuhan aja, gak di atur sedemikian rupa. Setelah punya rumah, barulah lanjut kata Bang Haji tadi...
Bahwa kehadirannya, sungguh berharga~
Iya, kami pakai uangnya untuk rumah. Jadi....barulah kerasa bahwa kami harus mengatur keuangan sedemikian rupa. 
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia~
Kalau dirasa berat, sebagai yang biasanya tenang karena ada dana simpanan, ya tentu berasa berat, syok lebih tepatnya. Loh kok belanja ternyata sekian ratus ribueun??? Loh kok baru tanggal segini uang tinggal segini? Ya begitulah 😁 Apalagi sekarang-sekarang, udah mah rumah minta jajan, persiapan lahiran, Fatih mau sekolah, daaaaan tiba-tiba....

Sungguh ini sangat ghoib :( Lagi dipake tiba-tiba copot begindang. Potek rasanya, seumur-umur pake kacamata dari SMP sampe sebelum nikah selalu pake kacamata murce, gak lebih dari 250.000, pemakaian jorok banget, tapi awet cuy. Ganti itu karena kacanya pecah atau ya emang ganti model aja karena minusnya nambah, hehe. Setelah nikah, gak tau dah berapa kali udah ganti kacamata bahkan yang harganya nyampe gopek! Mahal buatku, huhuhu, tapi ternyata potong lagi potong lagi gustiiiii. 

Dikirimlah si foto ini ke kakanda, dan responnya:
Pasrah 😂 Tapi disini ku merasa amat sangat gak enak. Di tengah lagi banyak keperluan, ini gak ada angin gak ada hujan malah potong. Akhirnya pake lem UHU aja si batangnya, alhamdulillah, bertahanlah kau kacamataaaa~

Ketika keadaan kaya begini, ada kepikiran "Duh gak enak minta uang terus. Duh coba punya uang sendiri. Duh coba bisa bantuin, dll." Sampai akhirnya suami tiba-tiba kirim link video Youtube ustad Fatih Karim tentang hukum wanita berkarir. 
Deg! Di menit 5:40...Apakah ini sebuah pertanda? Wkwkwk. Ternyata akunya aja yang baper, mikirnya ini kode buat kerja. Eh setelah orangnya nyampe rumah dan ngobrol-ngobrol ternyata maksudnya doi ngirim itu adalah untuk menyamakan persepsi. Katanya...
Emang Aa pernah ngelarang de kerja? Kan Aa mah balik nanya ke de, tujuan kerjanya apa? Mau kerja apa? Kerjanya gimana? Terus yang utama mah, Fatih gimana? Lagian, sebelum bilang ke Aa, pasti dari diri kamunya sendiri mikirin itu. Emang tega Fatih diurus sama orang lain? Atau dimasukin ke Day Care seharian gitu? Apalagi sekarang mau anak kedua.
Ya begitu deh. Ku emang gak bisa jawab pertanyaannya 😅 Dibilang mau bantuin ekonomi keluarga, suami jelas jawab masih mampu menafkahi. Fokusnya ya penuhi dulu kewajiban sebagai istri. Lagian ya segini mah alhamdulillah dong ya masih dicukupkan oleh Allah. Masih bisa makan enak, ada tempat berteduh, tinggal gaya hidupnya aja yang disesuaikan. Pokoknya jangan sampai kaya kata Bang Rhoma yang...
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia~
Jangan sampai soal uang ini jadi melupakan esensi rezeki yang sesungguhnya dari Allah. Kadang saya dan suami suka khilaf, sedih gak punya simpenan yang bejibun lagi (halah). Kadang kesel liat rumah yang baru sekian bulan udah harus direnovasi, sampai pernah suami bilang agak nyesel punya rumah. Uang habis, bikin stres pula kalau hujan. Suami emang gak ngebet punya rumah sekarang-sekarang. Padahal dulu nyaman-nyaman aja katanya, ada tempat berteduh meskipun ngontrak, uang juga bisa dipakai untuk keperluan lainnya. Qodarullah, gak ada yang tahu masa depan ya. Harus pandai-pandai bersyukur. Nikmat rezeki dari Allah itu bukan hanya soal materi, tapi juga ketenangan batin.

Jadi pelajaran buat saya khususnya, kalau rezeki Allah itu luas. It's (not) about money, but how we should be more grateful for what we have. Dari ujian yang sedang dihadapi saat ini, masih gak ada apa-apanya kalau kita melihat sekitar. Di balik kebingungan, pasti Allah berikan jalan. Mudah-mudahan Allah cukupkan kami.

Buat kedepannya, konsisten! Catat keuangannya yaa~ Jangan-jangan suka belanja yang mubazir, jangan-jangan ada hak yang belum tertunaikan, jangan-jangan sodaqohnya masih minim. Semangaaaaattt~

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.