Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (15)

Bismillah.

Dua hari yang lalu teh Diny membagikan tautan Youtube Deddy Corbuzier dengan Dr. Boyke mengenai "Kenapa Orang Bisa Jadi Banci?"


Dr Boyke dari awal membuka pernyataan mengenai LGBT dari dua pandangan, yaitu dari keilmuan dan agama. Secara agama, khususnya Islam, sudah jelas bagaimana pandangannya terhadap LGBT. Secara keilmuan, ternyata LGBT bukan lagi dianggap sebagai penyimpangan, melainkan kelainan orientasi seksual.

Penyebabnya sendiri ternyata 70% dari pengaruh lingkungan, 3-5% genetik (yang lahirannya di vacuum ternyata bisa berpengaruh juga karena menyebabkan kerusakan otak), dan sisanya pengaruh sejak dalam kandungan hingga masa pubertas. 

Contoh-contoh yang disebutkan memang sangat "gila" karena mungkin memang kita tidak pernah bersinggungan dengan hal tersebut, jadi kaget ketika ternyata kasus-kasus seperti "itu" nyata adanya. 

Menyimak obrolan seperti ini menjadi sebuah refleksi bagi saya dan suami, bahwa begitu bahayanya dunia luar bagi anak dan bagaimana peranan kami sebagai orang tua untuk melindungi anak dari hal tersebut. Saya juga sangat bersyukur, bahwa dalam Islam sendiri kehidupan itu betul-betul diatur sedemikian rupa. Sehingga apa-apa yang dicontohkan, salah satunya ketika pesantren atau sekolah dengan satu jenis kelamin, sebetulnya tidak perlu ada yang harus dikhawatirkan. Meskipun dalam penjelasan Dr. Boyke mengenai sekolah Theresia yang melarang pertemuan dengan lawan jenis (sama seperti pesantren) sehingga muncul adanya lesbian, tapi jika ditelaah lagi dalam Islam, batasan itu tidak hanya ada pada perempuan dan laki-laki, tapi juga hubungan antara sesama jenis. Misalnya tidak boleh tidur dalam satu selimut, tetap ada batasan aurat yang harus dijaga, dan lain-lain.

Jadi, penguatan pada anak itu memang melibatkan banyak komponen. Baik dari sisi agama, orang tua, juga lingkungan.

#Gamelevel11
#Day15
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.