Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (12)

Tips Menjaga Diri dari Kejahatan Seksual
  • Pemateri: Atilah, Cia, Ranti
  • Tanggal Diskusi: 2 Maret 2020

Kekerasan seksual dapat dilakukan oleh siapa saja: anak-anak, remaja, atau orang dewasa baik yang DEKAT DAN DIKENAL anak maupun yang TIDAK DIKENAL anak dengan cara membujuk atau mengancam. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa menjadi korban maupun pelaku. Dampak dari kekerasan seksual apalagi terhadap korban anak-anak bisa sangat fatal. Korban akan merasa sedih, merasa terabaikan, dikhianati, ditipu, tidak berdaya, sering tiba-tiba menangis. Muncul gejala psikosomatis pada korban seperti keringat berlebihan saat tidur, mengamuk, aneh, susah makan, dan lain-lain. Korban akan merasa tidak berharga, malu, merasa berbeda dengan anak lain, menarik diri, mengisolasi, depresi, bahkan anak menjadi terlalu waspada. Korban yang tidak kuat menahan beban penderitaan bisa melakukan tindakan bunuh diri. Kelak kekerasan seksual yang terjadi bisa sangat berpengaruh pada kehidupan korban setelah menikah dan punya anak. Terakhir, korban bisa juga menjadi pelaku terhadap orang lain.

Apa yang bisa dilakukan orang tua sebagai pencegahan kekerasan seksual pada anak?
  1. Menghangatkan hubungan dengan anak.
    Segala hal dapat dikompromikan melalui komunikasi yang baik. Membangun komunikasi dua arah yang bersifat lekat, dekat, dan bersahabat dengan anak menjadi sangat penting.
  2. Beri rasa aman, harga dan kepercayaan diri pada anak
  3. Ajarkan agama, jangan disubkontrakkan.
    Anak tidak akan selamanya bersama kita. Tugas Ayah Bunda adalah membekalinya dengan pemahaman agama yang baik. Ayah Bunda wajib mengajarkan anaknya untuk memahami siapa Tuhannya, siapa utusanNya, apa tugas hidupnya sebagai hamba, lewat mana ia bisa mendapatkan petunjuk hidup yang benar, akhlak dan adab baik, dan lain sebagainya.
  4. Persiapkan anak memasuki masa baligh
    Secara bahasa, "baligh" berarti sampai. Masa baligh adalah masa dimana anak telah sampai usianya pada tahap kedewasaan. Usia tepatnya bervariasi antara 9-11 tahun, ditandai dengan menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki. Saat masa ini tiba, anak sudah menanggung dosa dari amal perbuatannya sendiri dan pada masa ini pulalah gejolak syahwat, badai emosi, dan krisis identitas datang melanda. Ada di mana Ayah Bunda saat anak memasuki masa ini? Ayo, mulai diskusikan dengan anak. Lepaskan tabu dan saru. Orangtua lah pendidik pertama dan utama anak tentang seksualitas. Komunikasikan pendidikan seksualitas sejak dini sesuai dengan perkembangan otak anak per tahap usia.
  5. Penting juga untuk menggalang kerjasama dengan pasangan, guru sekolah, pengasuh anak, dan lingkungan
    • Kerjasama dengan orang yang terlibat dengan pengasuhan anak: orangtua, guru, pembantu, anggota keluarga, bahkan supir kita.
    • Kerjasama dengan pihak sekolah dan tetangga. Untuk berhati hati dan saling memperhatikan dan membantu anak masing-masing
    • Kerjasama dengan tempat sewa komik, warnet, games on line, dll
Setelah semua ikhtiar kita lakukan, selanjutnya adalah berdoa dan pasrah: Semoga Allah melindungi anak dan keturunan kita dari bencana. Pada Allah SWT jua lah kita berserah diri atas keselamatan diri dan keturunan kita.

Dalam hal kejahatan seksual hal yang perlu kita tekankan adalah upaya-upaya pencegahan. Selain berdoa, memohon perlindungan pada Allah agar Allah senantiasa menjaga putra putri kita semua kita juga perlu membekali putra putri kita dengan pengetahuan mendasar seputar anatomi tubuh anak dan fungsinya. Juga hal tidak diinginankan yang mungkin terjadi dan cara penanggulangannya. Karena materi ini agak sensitif kita harus bisa mengemasnya dengan 3B.
  • Bermain menyilangkan tangan pada bagian tubuh privat
  • Bernyanyi
  • Bercerita


#Gamelevel11
#Day12
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.