Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (11)


Bismillah.

Kebetulan banget, pas materi tentang fitrah seksualitas anak, eh pas Fatih juga beli buku yang memperkenalkan tentang aurat. Setelah sekian lama absen beli buku, akhirnya koleksi buku Fatih nambah lagi, dan kelihatan banget kalau doi seneng punya bacaan baru.

Bukunya khusus membahas tentang aurat laki-laki. Ada sih yang perempuannya disinggung sedikit. Selain tentang aurat, dibahas juga tentang apa yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Jadi buat saya buku ini sesuai untuk Fatih dan alhamdulillah anaknya dengan mudah memahami nilai-nilai di buku tersebut.

Hal itu terlihat saat tiap pakai celana pendek, Fatih merasa risih jika lututnya terlihat, "Kan aurat!" Gitu katanya. Sama ketika kami ke Bandung minggu lalu, Eninnya membelikan celana pendek, eh ditolak sama Fatih, katanya malu nanti keliatan auratnya 😂

Selain itu, ada nilai bahwa hanya orang-orang tertentu yang boleh membantu si anak yang mengharuskan auratnya terlihat seperti mandi, berpakaian, dan diperiksa dokter. Efeknya? Selama di Bandung Fatih gak mau mandi dan pipis ditemenin selain sama Mama/Papanya 😂 Terus buka celana atau baju juga harus di kamar mandi,  malu katanya. Etapi kadang setelah selesai doi masih keluar kamar mandi belum pake celana, wkwkwk. 

Tugas kami disini adalah konsisten. Bahwa kalau itu aurat ya aurat, tidak boleh terlihat. Kadang kami ingin anak menjaga auratnya, eh kami juga sebagai orang tua yang suka "maklum" untuk melanggar. "Gak apa-apalah sebentar ini, gak apa-apalah anak kecil ini, gak apa-apalah blablablabla" Yang secara tidak langsung tertanam pada anak bahwa melanggar suatu aturan itu ya gak apa-apa, ada pemakluman dan banyak alasan.

Bismillah ya, mari kita konsisten~

#Gamelevel11
#Day11
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.