Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (10)

Pengaruh Media Digital Terhadap Fitrah Seksualitas
  • Pemateri: Euis, Indah, Nia
  • Tanggal Diskusi: 29 Februari 2020
Media digital saat ini adalah sebuah keniscayaan. Ketika orang dulu menertawakan bisa menonton TV hanya lewat sebuah ponsel, berbicara dengan orang yang jauh tanpa kabel. Perkembangan teknologi semakin berkembang, revolusi industri 4.0 telah merubah banyak hal. 

Fitrah seksualitas anak pun akan tergoyahkan dengan adanya sumber-sumber media yang memprovokasi dan tak bertanggungjawab. Didalam buku "Keluarga Andal di Era Digital" dituliskan: Menurut Nichols, "Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok". Bijak berteknologi sangat diperlukan di era 4.0 ini.

Media digital adalah media yang dikodekan dalam format yang dapat dibaca oleh mesin (machine-readable). Konsep Media Digital adalah biner yaitu 0 dan 1 menggunakan gelombang diskrit. Media digital dapat dibuat, dilihat, didistribusikan, dimodifikasi dan bisa bertahan pada perangkat elektronik digital. Proses digital menggunakan logika Algoritma. Program-program komputer dan perangkat lunak seperti citra digital, digital video; video games; halaman web dan situs web, termasuk media sosial; data dan database; digital audio, seperti mp3, mp4 dan e-buku adalah contoh media digital. Media digital sangat berbeda dengan media analog yang mengandalkan sistem manual seperti media cetak, buku cetak, surat kabar dan majalah yang masih bersifat tradisional seperti gambar, film tape audio dan lain-lain (University of Guelph, September 2006).
Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Media_digital

Media digital bukan hanya smartphone, ada komputer, laptop, game konsol, maupun TV. 

Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berperilaku, merasa dan berfikir sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati. (Harry Santosa dalam Fitrah Based Education).

Apakah media digital selalu berdampak negatif terhadap perkembangan fitrah seksualitas anak?

Tentu TIDAK. Media digital juga memiliki dampak positif yang berguna bagi kehidupan anak-anak kita. Diantaranya adalah:
1. Media belajar tentang informasi pendidikan seks
Kita bisa mencari anatomi tubuh dengan hanya bertanya pada Google. Dengan adanya anatomi tersebut, kita bisa menjelaskan kepada ananda bagian-bagian tubuh dengan lebih jelas 

2. Tempat mengekspresikan gender melalui sosial media (dengan pengawasan orang tua)
Sekarang banyak influencer baik di IG maupun Youtube. Jika menggunakan dengan bijak misal sebagai media dakwah, sebagai portofolio anak sesuai dengan minat bakatnya, maka media digital ini sebagai media tempat mereka mengekspresikan diri. 

3. Media belajar untuk mendapat informasi yang lebih luas
Jaman dulu kalau mau tanya pelajaran yang tidak di mengerti, saya akan bertanya pada orang tua, guru, kaka atau teman. Bahkan mungkin mencari di RPUL. 
Sekarang, kita bisa bertanya dengan orang yang kita tidak kenal. Bahkan berlangganan aplikasi belajar macam Ruang Guru.

Sebelumnya sudah dibahas dampak positif, sekarang kita bahas dampak negatif: 
1. Paparan pornografi yang rentan muncul di setiap akses
2. Adanya penyimpangan gender dan kecanduan media sosial yang menjadi incaran pelaku kejahatan
3. Kehilangan kontrol diri

Prinsip dasar mengasuh seksualitas :
1. Orang tua sebagai pendidik utama dan pertama seksualitas anak.
Kita sebagai orang tua adalah madrasah pertama ananda, harus konsekuen dengan apa yang sudah dikatakan maupun diperbuat.
2. Berlandaskan Agama
Menanamkan fitrahnya sesuai dengan fitrah rabb nya, bekali ananda dengan pondasi agama, tancapkan akar2 yang kuat (aqidah) kepada ananda
3. Keluar dari tabu dan saru
Jelaskan kepada ananda secara ilmiah. Jangan mengganti gajah untuk penis, apem untuk vagina. Hilangkan rasa tabu dan saru.
4. Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan
Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, kita harus terus belajar baik melalui membaca buku, ikut seminar maupun ikut Ibu Profesional ini.

Solusi menurut Ibu Elly Risman agar anak tidak keluar dari fitrahnya :
1. Kesiapan menjadi orang tua
2. Dual Parenting, Ayah harus terlibat
3. Tetapkan tujuan pengasuhan dan sepakati
4. Komunikasi yang benar, baik dan menyenangkan
5. Ortu yang menanamkan nilai agama
6. Menyiapkan masa baligh
7. Bijak memanfaatkan teknologi


#Gamelevel11
#Day10
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.