Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (7)

Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas
  • Pemateri: Ajeng Tanindya Apsari, Devi Herawati, Lenni Sugiarti, Resti Agustina
  • Tanggal Diskusi: 26 Februari 2020
Masih banyak anggapan bahwa pendidikan anak itu tugas ibu, sementara ayah tidak diperlukan. Bahkan dunia psikologi pun mengabaikan pentingnya peran ayah. Hanya sedikit psikolog yang menghubungkan pengasuhan anak dengan ayah. Baru pada dekade 80-an,  penelitian tentang peran ayah mulai semakin banyak. Kini, semakin banyak ditemukan pentingnya peran ayah. Salah satu figur sentral dunia psikologi, Sigmund Freud, mengungkapkan: Saya tidak bisa memikirkan kebutuhan masa kecil yang lebih kuat dari kebutuhan akan perlindungan ayah.

1. Pemahaman bahwa orientasi seksual tidak ditentukan oleh gender. Contoh: Tidak semua manusia yang terlahir sebagai wanita akan memiliki orientasi seksual seorang wanita.
Banyak kalangan yang mempercayai bahwa meskipun orientasi seksual dan gender merupakan hal yang berbeda. Jadi, meskipun seseorang terlahir sebagai wanita, ia bisa jadi memiliki orientasi seksual lelaki atau wanita dan lelaki. Bagi aktivis HAM, hal tersebuk adalah hak asasi manusia dan harus dilindungi. Namun, bagi umat Islam, sudah jelas bahwa setiap orang yang dilahirkan sebagai wanita, diharuskan untuk memelihara fitrahnya sebagai wanita, memiliki kepribadian wanita.

2. Akses terhadap informasi yang tak terbatas. Contoh : Anak dapat mengakses pornografi dari internet sehingga termotivasi untuk melakukan pornoaksi.

Dua tugas besar pada masa perkembangan yang sama:
  1. Pembentukan identitas yang mandiri (termasuk perkembangan pendirian bahwa dirinya mampu)
  2. Identifikasi gender (mengenali sosok maskulin pada anak laki-laki dan feminin pada anak perempuan)
Bagi anak laki-laki, kedua tugas ini sangat saling bergantung. Pada anak laki-laki, perasaan bahwa dirinya mampu mendorong perasaan kemaskulinan. Begitu pula kemaskulinan mendorong adanya  perasaan bahwa dirinya mampu.

Pada laki-laki tetap saja ada unsur feminitas, begitupun pada perempuan ada unsur maskulinitas, tapi tidak dominan. Unsur tsb dibutuhkan bukan dihilangkan. Yang penting adalah bagaimana memanage-nya. Laki-laki membutuhkan cinta, kasih sayang, kepedulian, feeling, firasat. Perempuan harus berani berkata tidak, berani menolak, berani tampil beda, daya analisis. Jika tidak di manage dengan baik akan menimbulkan bahaya.

Ayah adalah sosok yang sangat sabar dalam menemani bermain dengan anak-anaknya, terutama untuk anak perempuannya. Ayah adalah sosok yang paling berarti untuk seorang anak perempuan, dimana hanya ayah lah yang paling mengerti apa ingin nya. Sosok seorang Ayah yang paling sering memberikan petualangan-petualangan baru dan menyenangkan untuk anak perempuannya. Bahkan, Ayah tidak pernah mengeluh karena kelelahan menjadi tulang punggung keluarga.

Ayah merupakan sosok lelaki pertama yang mucul di hadapan anak perempuannya. Dia lelaki pertama dan terdekat yang berada disisinya. Demikian juga hal ini terus berlanjut hingga anak perempuan menjadi seorang wanita dewasa, yang tetap menjadikan ayahnya sebagai cinta pertamanya. Hal yang luar biasa, bahwa tidak jarang sosok seorang ayah dijadikan sebagai patokan dan panutan buat kaum wanita dalam mendapatkan pasangan seumur hidupnya. Cinta sang ayah pada anak perempuannya, lebih besar daripada lelaki manapun.

Konsep pendidikan seksual dalam Islam adalah menanamkan jiwa maskulin pada anak laki-laki dan feminin pada anak perempuan selaras dengan jenis kelamin.
Secara psikologis, sifat maskulin dan feminin itu berada dalam satu garis. Setiap laki-laki dan perempuan memiliki kedua kecenderungan itu dalam proporsi berbeda. Anak perempuan didominasi oleh sifat feminin, meski di satu sisi mereka memiliki sifat maskulin dengan kadar tertentu. Sebaliknya, laki-laki memiliki sifat maskulin yang dominan.

Dalam kehidupan ini diperlukan adalah kepribadian yang lengkap. Seorang laki-laki yang menjadi pemimpin selain memiliki sifat tegas dan berani, juga harus memiliki kesabaran dan belas kasih. Demikian juga wanita yang penuh kelembutan dan kasih sayang, juga memerlukan rasio dan akal untuk berkembang.

Bagi anak perempuan, seorang ibu adalah pengayom bagi anak-anaknya, terutama anak perempuan yang biasanya paling sering mengalami kegalauan. Sang ibu menjadi peneman anak-anaknya, yang memberikannya support tak terbatas bagi anak-anaknya. Disamping ibu, ada seorang sosok yang juga penting, yaitu sosok ayah. Walaupun jasanya tidak sebesar Ibu yang telah merasakan sakit saat melahirkan, tetapi ayah juga memiliki peran sangat besar. Ayah memiliki sifat yang sangat cuek dan pekerja keras. Sifat cuek seorang ayah bukan karena tidak peduli dengan anaknya, namun ia hanya ingin anak nya memiliki kepribadian yang tangguh sama seperti dia.

Pembentukan pribadi yang seimbang ini merupakan hasil dari pola asuh yang diberikan orang tua di masa kecil. Orang tua harus mampu memberikan kesempatan pengembangan sifat maskulin dan feminin secara seimbang kepada anak-anak. Ayah berperan memberikan suplai maskulin, dan sebaliknya Ibu memberikan suplai feminin. Anak laki-laki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Demikian sebaliknya, anak perempuan memerlukan 75% suplai feminin dan 25% suplai maskulin.



#Gamelevel11
#Day7
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.