Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (8)

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Membangkitkan Fitrah Seksualitas
  • Pemateri: Diny, Dwi, Ika
  • Tanggal Diskusi: 27 Februari 2020
Q: Apa dampaknya jika ayah sudah ikut mendidik anak, tapi secara pribadi dia tidak bisa mencontohkan?
A: Suami udah mau Terlibat itu bagus ✅ Tidak bisa mencontohkan? Contohnya apa?
Ayah sudah mau terlibat sudah menjadi permulaan yang baik. Sudah ada niat. Dimana kalau sudah ada niat pasti ada jalan. Tinggal disupport istri. Mulai dengan hal yang paling sederhana, kalau anak lak-laki diajak ke mesjid 1x aja per hari asal konsisten. Kalau anaknya perempuan bacakan cerita 15 menit aja (ini bisa buat anak laki-laki juga). Dampaknya? Sudah bagus sih suami mau terlibat 😙
Yang perlu diingat: Anak tak pandai mendengar tapi ia tak pernah salah meniru.Langkah awal, puji dulu suami buat meningkatkan sisi qowwamnya, nyamankan dulu suami, baru koreksi dengan beberapa persyaratan:
  1. Waktu yang tepat
  2. Tempat yang tepat
  3. Kalimat yang tepat, tidak menjatuhkan/meremehkan.
  4. Cari solusi bersama
Q: Bagaimana membuat ayah sadar dengan fungsinya? Misalnya ngeles "Ah belum waktunya deh dia dikasih tahu seputar mimpi basah dan cerita sperma. Dia kan masih baru 6.5 tahun". Padahal kita gak tau kapan masa baligh dia datang. Walaupun ada range usianya.
A: Kunci yang sering digaungkan IIP: Sering ngobrol bareng maen bareng 😁
Bangun dulu kedekatan pasutri, beri suggest perlahan. *Laki-laki gak bisa nerima banyak kata-kata.
Mulai dari:
  1. Sadarkan bahwa ia adalah pemimpin keluarga.
  2. Buat ia selalu membuat keputusan. Misal: Aa/mas/kang/ay (dst) mau makan ikan atau ayam? Istri tetap memberi opsi, keputusan tetap di suami. Kalau sering dilatih akan menumbuhkan kembali fitrah maskulinitasnya.
Q: Masalah gadget, kadang seorang ibu melarang anaknya main HP sedangkan ayah boleh karena hari libur. Bagaimana menegur suami biar kita sejalan supaya si anak gak bermain gadget?
A: Nah, disini lah perlunya ayah dan ibu bersepakat.
  • Usia brp anak akan diberikan gadget
  • Berapa lama akan terpapar gadget?
  • Teknis pengawasan?
Dan ini harus 1 suara ketika menghadapi anak. Ketika ayah terlanjur mengOKkan, kita harus mengikuti. Baru d belakang layar, ibu ayah berkompromi.

Q: Kalau misalnya ayahnya meninggal sejak kecil, kira-kira membetulkan anak yang kehilangan sosok ayah itu bagaimana ya diusianya yang sekarang sudah lulus SMA? Salah satu contohnya yang disebutkan di materi, kesulitan mendapatkan/mempertahankan pekerjaan, dan seperti sulit dalam membuat keputusan/plinplan.
A: Kalau sudah pemuda cara paling efektif adalah minta nasehati oleh orang yang diseganinya/yang dia idolakan. Bisa paman/guru ngaji/guru sekolah/teman/kakak kelas.

Q: Gimana kalau ada suami yang percaya sepenuhnya sama istri tentang pengasuhan anak? Jadi dia seolah gamau ikut riweuh. Tapi mendukung sepenuhnya apa yang istri ajarkan ke anak. Sosok ayah ada. Tapi karena ayah kurang memberikan input tentang pola pendidikan di keluarga🙏🏻
A: Gak apa-apa. Bagus berarti kendali di kita. Tinggal report aja. Tetap harus ada komunikasi, mau ngelakuin apa, progressnya gimana, sama minta saran sama tanggapannya. Jadi suamipun merasa dianggap. Dan jiwa kepemimpinannya gak tergerus karena selalu kita libatkan.

Q: Saya pernah menyimak video tentang perempuan yang jadi pelakor. Dia merasa cemburu ketika melihat ada anak yang begitu dekat dengan ayahnya dan ingin memiliki ayahnya dengan cara menggoda tentunya. Alasannya karena dia kehilangan sosok ayahnya. Apakah itu ada penjelasannya? Ataukah hanya akal-akalan perempuan itu saja, ingin mengambil pasangan orang lain? 🙈
A: Bisa saja seperti itu. Salah satu dampak absennya sosok ayah. Untuk anak perempuan, kehadiran ayah bisa memberi cara pandang seorang laki-laki memperlakukan perempuan. Ketika hak itu tidak dia dapatkan, maka akan mencarinya ke tempat lain. Salah satunya kasus tersebut.

Setelah dari hal receh, mulai merasukinya dengan tidak menggurui. Misal: Aa, aku hari ini belajar tentang fitrah seksualitas loh, katanya, blablabla. Jelasin tahapannya dan menuntut suamipun sesuai tahapannya. Aa mau mulai nyontohin hari ini atau besok?

Based on seminar FBE dengan ust Harry Santosa:
Pada dasar nta manusia punya unsur maskulin & feminin. Fitrahnya, laki-laki dominan maskulin dengan tetap punya feminin, pun sebaliknya. Apa itu femininitas? Yaitu ketulusan, kasih sayang, kelembutan, firasat & pengorbanan. Apa itu maskulinitas? Yaitu daya juang, tanggung jawab, mempertahankan diri, ketegasan. Masalah terjadi ketika fitrah itu MENYIMPANG. Perempuan lebih dominan maskulinitas pun sebaliknya. Jadi tidak ideal. Pasti gak nyaman -> harus kembali ke fitrah.

Dampak kalau terlalu banyak dapat maskulin dari ibu & feminin dari ayah -> akan BIAS GENDER. Anak bingung karena melihat laki-laki dari ibu, perempuan dari ayah -> akan terjadi perubahan orientasi seksualitas -> terjadi homoseksual. Apa yang harus dilakukan? BENAHI KONSEP SEBELUM NYA. Akan ajeg jadi orang tua kalau sudah ajeg jadi pasangan. Akan ajeg jadi pasangan kalau sudah ajeg konsep diri. Gimana mengembalikan ayah ke perannya? Benahi sama-sama konsep jadi pasangan. 

Evaluasi istri: Jangan-jangan ada sikap/kata-kata istri yang membuat suami tercederai jiwa kepemimpinannya.
Evaluasi suami:
Jangan-jangan ada kata-kata yang diucapkan tidak sesuai dengan perbuatan, itu membuat suami kehilangan "wibawa" kepemimpinan.

RAJA TEGA menurut ust. Aad di kajian Lukmanul Hakim:
  • 0-6 tahun -> fase full cinta. Penguatan semua konsepsi fitrah melalui imaji-imaji positif tentang Allah, diri, alam. Tahap ini, fitrah sedang tumbuh mekar. Masih rentan. Maka, tega ditahap ini TIDAK DIPERLUKAN.
  • 7-10 tahun -> fase latih awal. Porsi cinta 50%, logika 50%. Tahap penyadaran potensi fitrah. Mulai eksplorasi beragam kegiatan. Anak sudah menyadari aturan sosial & tanggung jawab moral. Solat & adab-adab lain mulai dilatih. Maka, tega di tahap ini: tega menginteraksikan fitrah dengan berbagai kegiatan eksplorasi di alam & kehidupan untuk menemukan & menggali potensi anak. Tahap ini anak belajar konsekuensi dan tanggung jawab
  • 11-14 tahun -> fase menjelang aqil baligh. Fase paling berat selama masa anak-anak. Inilah fase tega untuk menguji potensi-potensi anak (yang sudah ajeg di tahap 7-10 ttahun) dan cinta (yang sudah ajeg di tahap 0-10 tahun). Sehingga semua ketegaan akan dianggap sebagai kecintaan & sesuatu yang relevan dengan anak. Pengujian dilakukan dengan pembebanan berat seperti: magang, mencari nafkah, merantau. Namun tetap sesuai dengan potensi anak. 
  • >15 th -> fase ketegaan untuk melepas sang anak.

#Gamelevel11
#Day8
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.