Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (5)

Ketika Anak Bertanya
  • Pemateri: Dena Ambar Sary, Giftiani Citra, Meti Marayanti, Sri Handayani
  • Tanggal Diskusi: 24 Februari 2020
Q: Bertanya Allah kok ga keliatan ya?
Kok umi sama Abi tidurnya sama-sama?
Aku keluar nya dari mana sih?
A: Untuk jawaban sederhananya Allah tidak terlihat karena Allah itu Maha Ghaib. Ada jawaban lain, bahwa Tuhan tidak terlihat karena Tuhan itu Maha Besar, saking besarnya Tuhan pun tak mampu dilihat indra manusia.
Sementara kalau kenapa umi dan Abi tidur bersama karena umi dan abi sudah menikah jadi boleh tidur bersama.
Kalau keluarnya dari mana kita bisa jelaskan kalau kita keluar dari vagina yang letaknya ada di bawah perut wanita.

Q: Ibu kenapa kalo ayah mandi Aes g boleh masuk? Tapi kalo sama ibu Aes boleh masuk?
A: Sudah mulai dibiasakan untuk merasa malu dan tidak boleh jika d lihat lawan jenis sedari dini ya teh.

Q: Yang agak bikin galau tuh kalo jalan berdua anak cowok 4,5 tahun usianya. Kalau mau ke toilet, dia suka ngambek karena kan masuknya ke toilet cewek. Ga mungkin aku nganter ke toilet cowok. Tapi untuk ditinggal pipis sendiri, kok belum tega yaa. Adakah yg punya pengalaman?
A: Bisa kita jelaskan secara jujur mungkin ya teh, kalau kita khawatir membiarkan si kecil pipis sendiri di toilet cowok. Sedangkan kita sebagai wanita tidak boleh masuk ke toilet laki-laki.
Menurut teh Rini, sebagai orang tua kita harus tega. Dicoba dahulu lalu komunikasikan apa yang di khawatirkan bunda. Sama halnya dengan ketika solat bisa dikomunikasikan "Abang, kita solatnya gantian boleh ga, sekarang abang tunggu bunda solat, nanti bunda selesai, gantian bunda yang tunggu abang solat."

Q: Anak saya ngaji ngajak teman. Anaknya cewek, tiap berangkat pake kerudung giliran pulang dia selalu dibuka kerudungnya. Sama anak saya disuruh dipake karena auratnya keliatan. Eh si anak bilang gini, "Tuh mah Dzakwan itu juga banyak yang gak pake kerudung gimana tu (sambil nunjuk ibu-ibu yang gak pake kerudung di jalan). Nah gimana cara ngasih taunya supaya dia gak melepaskan kerudungnya?
A: Ini pentingnya memperkuat fitrah keimanan sebelum fokus ke aqil baligh. Jadi kaya ada fase yang diloncat gitu, dia belum mengerti kenapa harus pakai kerudung, siapa yang nyuruh, kenapa kita harus nurut. Tiba-tiba sekarang langsung dibahas soal aurat. Kalau kita sudah memperkuat keimanan kepada anak mengenai salah kewajiban seorang muslimah itu menutup aurat insyaAllah tidak akan menimbulkan pertanyaan lagi dikemudian hari.
Mungkin kita bisa coba memposisikan diri. Dengan teman atau keluarga saja, kadang ketika kita mengajak agar menggunakan hijab gak mudah, padahal secara akal mereka itu seharusnya sudah paham. Nah sekarang yang kita hadapi anak kecil, yang kemungkinan mereka belum terlalu paham mau segimanapun kita memaksa. Yang bisa kita lakukan adalah mengenalkan sedikit demi sedikit tentang fitrah keimanan dan yang penting dianya termotivasi dulu aja dikerudung. Jangan "dipaksa" yang bikin malah jadi sebel.

Q: Gimana caranya agat kita tahu sejauh mana anak kita tahu? anakku gak pernah tanya macem-macem. Tapi pernah malu sendiri saat ayahnya tiba-tiba meluk aku di depan dia.
A: Sebetulnya kita harus tau dulu pola komunikasi kita dengan anak kaya gimana sejauh ini. Apakah untuk membahas/melihat hal yang seperti pelukan dll itu udah biasa atau ga pernah komunikasi sama sekali. Karena ketika anak ditanya "kenapa?" sementara belum pernah/jarang ada obrolan akan pasti awkward jadinya.
Disini langkah awal supaya jadi askable parents adalah dengan membuka komunikasi dan membuat anak nyaman bicara dengan kita. Gak dengan langsung nembak pertanyaan, tapi kita bisa memancing respon anak terhadap sesuatu. Misal ada foto anak sd pacaran/mesra gt, terus kita pancing, ih ini beneran anak sd kaya gini? Di sekolahmu ada yang gini juga? Jadi membuka keran diskusi berdasarkan apa yang dia lihat di sekitar dia dan respon dia terhadap hal tersebut.




#Gamelevel11
#Day5
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.