Penyimpangan Seksualitas, Pencegahan, dan Solusinya
- Pemateri: Sri Purwiasih, Mayang Adhika Ratna, Angngi Hijri Ridzkiya, Popy Nilasary
- Tanggal Diskusi: 21 Februari 2020
Orang tua harus memberi bekal dan pemahaman:
- Tentang sosok (mana sosok perempuan dan mana sosok laki2)
- Batasan sebagai anak laki2
- Batasan sebagai anak perempuan
Anak laki-laki yang keperempuan-perempuanan, anak perempuan yang kelaki-lakian. Salah keluarga atau salah pergaulan? Penyimpangan orientasi dan perilaku seksual anak menjadi hal yang perlu mendapat perhatian para orangtua di era keemasan dunia alay sekarang ini. Pembekalan penanaman agama, adab, akhlak & kedekatan orang tua sangat amat berperan.
Apakah tanda-tanda penyimpangan seksual dapat diketahui? Karena biasanya pelaku sangat mungkin untuk menyembunyikan jati dirinya. Jika masih kecil biasanya tanda-tanda yang timbul bisa terlihat. Yang mungkin untuk menutupi adalah yang sudah dewasa. Siapa yang bisa melihat? Biasanya lingkungannya, seperti penghuni rumah, teman sepergaulan, dll. Oleh karena itu untuk menghindari atau pencegahannya kita harus selalu ada pendekatan contohnya dengan anak-anak kita sendiri.
Lalu, sebetulnya faktor yang mempengaruhi itu apakah dari lingkungan atau ada dari biologis genetik/hormonal? Menurut teh Angngi, ini permasalahan lingkungan dan pergaulan. Ada yang bilang jiwa tertukar atau menyalahkan orang tuanya, "Dulu ibu sih pengennya punya anak perempuan makanya aku jd kemayu." Apakah bisa disembuhkan? Menurut teh Angngi bisa, ada pendekatan secara agama. Ada juga pendekatan secara psikologis atau diterapi. Tambahan dari artikel di buku FBE ust. Harry Santosa menyatakan bahwa LGBT murni psycho genic (bentukan pola asuh) dan social genic (bentukan lingkungan), bukan bio genic.
Teman teh Dian, seorang hypnotherapist banyak menangani trans gender seperti ini. Rata-rata mereka itu kelainan. Karena ada kliennya yang sudah punya anak istri, tapi begitu ditugaskan di luar Jawa dia balik lagi ke homo dan berhubungan dengan laki-laki. Kalau balik ke Jakarta dia liat istri dan anaknya keinginan untuk menjadi normal selalu ada. Tapi memang butuh waktu dan terapisnya bilang harus kuat niat berubahnya. Kalau enggak, akan balik lagi dan lagi. Tapi overall bisa disembuhkan. Transgender ini biasanya pada saat kecilnya kehilangan sosok ibu atau bapak. Kalau tidak ada pengasuhan dari ibu biasanya dia cenderung mencari sosok ibu untuk perlindungannya. Kalau anak cewek cari ke cewek lagi ini sudah. Begitu pun anak laki-laki. Kalau sosok Bapak tidak ada dia akan cari figur ayah. Jadi tetep adakan hubungan pengasuhan dengan ayah untuk anak cewek dan sebaliknya. Biar tidak "lost" sosok ini. Misal tidak ada ayahnya, maka figur ayah bisa digantikan oleh paman atau uwa. Single parent tidak harus menikah lagi, sebisa mungkin menghadirkan sosok ayah atau ibu yang tidak ada. Untuk yang long distance marriage, bisa menghadirkan sosok ayah dengan video call. Ibu juga bisa menghadirkan sosok ayah dengan berkata, "Ingat kata ayah kemarin apa?"
Bagaimana solusi untuk anak yang saat ini berada di era digital, dimana tidak lepas dari gadget dan jika melihat film kartun saat ini banyak unsur penyimpangannya sedangkan konten islami masih minim? Ini sepertinya kekhawatiran pertanyaan bagi semua orang tua, kadang pembatasan juga agak susah. Apalagi kita juga sekarang mencari ilmu, atau usaha memakai gadget. Dan karena anak adalah peniru ulung ya mau tidak mau mereka meniru kita. Salah satu cara, selain membatasi atau menemani anak saat memakai gadget adalah, orang tua yang mengalah untuk membatasi pemakaian gadget di depan anak. Saat bersama anak kita simpan dulu hasrat scroll layar (sulit pasti, tapi bismillahirrahmanirrahim).
#Gamelevel11
#Day2#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak







Comments
Post a Comment