Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (2)

Penyimpangan Seksualitas, Pencegahan, dan Solusinya

  • Pemateri: Sri Purwiasih, Mayang Adhika Ratna, Angngi Hijri Ridzkiya, Popy Nilasary
  • Tanggal Diskusi: 21 Februari 2020
Orang tua harus memberi bekal dan pemahaman:
  1. Tentang sosok (mana sosok perempuan dan mana sosok laki2)
  2. Batasan sebagai anak laki2
  3. Batasan sebagai anak perempuan
Anak laki-laki yang keperempuan-perempuanan, anak perempuan yang kelaki-lakian. Salah keluarga atau salah pergaulan? Penyimpangan orientasi dan perilaku seksual anak menjadi hal yang perlu mendapat perhatian para orangtua di era keemasan dunia alay sekarang ini. Pembekalan penanaman agama, adab, akhlak & kedekatan orang tua sangat amat berperan.

Apakah tanda-tanda penyimpangan seksual dapat diketahui? Karena biasanya pelaku sangat mungkin untuk menyembunyikan jati dirinya. Jika masih kecil biasanya tanda-tanda yang timbul bisa terlihat. Yang mungkin untuk menutupi adalah yang sudah dewasa. Siapa yang bisa melihat? Biasanya lingkungannya, seperti penghuni rumah, teman sepergaulan, dll. Oleh karena itu untuk menghindari atau pencegahannya kita harus selalu ada pendekatan contohnya dengan anak-anak kita sendiri.

Lalu, sebetulnya faktor yang mempengaruhi itu apakah dari lingkungan atau ada dari biologis genetik/hormonal? Menurut teh Angngi, ini permasalahan lingkungan dan pergaulan. Ada yang bilang jiwa tertukar atau menyalahkan orang tuanya, "Dulu ibu sih pengennya punya anak perempuan makanya aku jd kemayu." Apakah bisa disembuhkan? Menurut teh Angngi bisa, ada pendekatan secara agama. Ada juga pendekatan secara psikologis atau diterapi. Tambahan dari artikel di buku FBE ust. Harry Santosa menyatakan bahwa LGBT murni psycho genic (bentukan pola asuh) dan social genic (bentukan lingkungan), bukan bio genic.



Teman teh Dian, seorang hypnotherapist banyak menangani trans gender seperti ini. Rata-rata mereka itu kelainan. Karena ada kliennya yang sudah punya anak istri, tapi begitu ditugaskan di luar Jawa dia balik lagi ke homo dan berhubungan dengan laki-laki. Kalau balik ke Jakarta dia liat istri dan anaknya keinginan untuk menjadi normal selalu ada. Tapi memang butuh waktu dan terapisnya bilang harus kuat niat berubahnya. Kalau enggak, akan balik lagi dan lagi. Tapi overall bisa disembuhkan. Transgender ini biasanya pada saat kecilnya kehilangan sosok ibu atau bapak. Kalau tidak ada pengasuhan dari ibu biasanya dia cenderung mencari sosok ibu untuk perlindungannya. Kalau anak cewek cari ke cewek lagi ini sudah. Begitu pun anak laki-laki. Kalau sosok Bapak tidak ada dia akan cari figur ayah. Jadi tetep adakan hubungan pengasuhan dengan ayah untuk anak cewek dan sebaliknya. Biar tidak "lost" sosok ini. Misal tidak ada ayahnya, maka figur ayah bisa digantikan oleh paman atau uwa. Single parent tidak harus menikah lagi, sebisa mungkin menghadirkan sosok ayah atau ibu yang tidak ada. Untuk yang long distance marriage, bisa menghadirkan sosok ayah dengan video call. Ibu juga bisa menghadirkan sosok ayah dengan berkata, "Ingat kata ayah kemarin apa?"

Bagaimana solusi untuk anak yang saat ini berada di era digital, dimana tidak lepas dari gadget dan jika melihat film kartun saat ini banyak unsur penyimpangannya sedangkan konten islami masih minim? Ini sepertinya kekhawatiran pertanyaan bagi semua orang tua, kadang pembatasan juga agak susah. Apalagi kita juga sekarang mencari ilmu, atau usaha memakai gadget. Dan karena anak adalah peniru ulung ya mau tidak mau mereka meniru kita. Salah satu cara, selain membatasi atau menemani anak saat memakai gadget adalah, orang tua yang mengalah untuk membatasi pemakaian gadget di depan anak. Saat bersama anak kita simpan dulu hasrat scroll layar (sulit pasti, tapi bismillahirrahmanirrahim).


#Gamelevel11
#Day2
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.