Skip to main content

Game Level 10 - Grab Your Imagination (8)

Bismillah.

Minggu ini kami ke Bandung~ Quality time Fatih sama Enin, Abah, dan bibinya 😄 Sebetulnya agak bingung ya mendongeng apa disini? Selain gak ada buku, suasananya juga lebih enak untuk kumpul-kumpul. Seringnya, Fatih disini bercerita tentang apa-apa yang terjadi di Karawang (((((terjadiiii))) 😂

Salah satunya adalah saat Fatih bercerita kalau dia tidak suka dibangunkan oleh Papanya dengan panggilan "Dul." Doi menggambarkan situasi saat itu dan bercerita kalau dia marah dipanggil Dul jadi gak mau bangun. Doi juga nambahin kalau harusnya papanya itu banguninnya dengan namanya, Fatih. Jadi, "Fatih, Fatih, bangun Fatih..." Gitu katanya meniru cara papanya bangunin tiap pagi 😂

Kami yang mendengarkan hanya bisa tertawa, apalagi keluarga di Bandung yang dengar langsung Fatih bercerita 😅

Selain itu, Fatih dan saya juga bercerita melalui gambar. Kami mengulang pengalaman ketika jalan-jalan ke depan komplek dan juga ke mall dengan gambar bersambung.


Awalnya bermula dari rumah kami. Disitu kami mendeskripsikan rumah kami itu seperti apa, ada apa saja, setelah itu lanjut jalan-jalan. Fatih dibawa flashback dimana doi sering ngendarain sepedanya ke tengah jalan 😅 Dari situ, Fatih bisa dinasehati melalui cerita bergambar kalau hal tersebut berbahaya, harusnya di pinggir aja. Setelah gambar ini itu yang semakin abstrak karena saya gak bisa gambar, akhirnya cerita bergambar diakhiri dengan menggambar rel kereta api, terus Fatih main kereta mainannya lagi deh 😂

Ya begitulah, selip-selipin dikit meskipun gak maksimal, hohoho~ Besok ada agenda di luar rumah nih, semoga gak banyak drama ya, semangat~

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.