Skip to main content

Game Level 11 - Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak (1)


Pentingnya Aqil Baligh Secara Bersamaan

  • Pemateri: Clara, Dian, Nining, Nurfiah
  • Tanggal Diskusi: 20 Februari 2020
Idealnya, anak menginjak aqil baligh pada usia 14-15 tahun.

Baligh menyebabkan manusia memiliki nafsu, syahwat, gairah terhadap lawan jenis, juga fantasi seksual. Pengendali dan pengarahnya adalah akal, dan ini akan berfungsi pada manusia yang sudah aqil. Ketika baligh tumbuh tidak berbarengan dengan aqil, dampaknya menjadi GAGAL AQIL.

Contoh: Sholat dikerjakan, namun seks bebas juga dikerjakan. Puasa iya, namun melacur juga iya. Cara agar tidak gagal aqil yaitu persiapkan putra putri anda untuk aqil baligh.

Ketika anak sudah baligh, maka pendampingan yang dapat dilakukan oleh orang tuanya adalah memastikan anak sudah aqil dan lanjutkan pengasahan terhadap fitrah-fitrah yang lainnya. Jadilah partnernya dalam menemukan dan menyelesaikan misi hidup sebelum pulang ke Sang Pemberi Tugas.

Usia 0-6 tahun adalah golden age fitrah keimanan. Belum ada persiapan yang dapat dilakukan menuju aqil baligh. Persiapan yang dapat dilakukan adalah diberikan penguatan iman agar ananda bisa siap menuju persiapan aqil baligh yang dimulai saat usia 7 tahun. Di masa 0-6 tahun, anak berada pada masa imajinasi yang memuncak, alam bawah sadar masih terbuka lebar, sehingga imaji-imaji tentang Allah, Rasul, kebaikan akan mudah dibangkitkan di usia ini. Orang tua bisa banyak bercerita mengenai akhlak Rasul dan Sahabat, tentang ciptaan Allah, tentang Allah, siapakah Allah, darimana kita berasal. Selain itu bisa juga dengan memperkenalkan adab sejak dini seperti adab tidur sendiri, adab ke toilet (mandi sendiri atau dibantu oleh ibu apabila anak perempuan dan dibantu oleh ayah apabila anak laki-laki), adab menutup aurat. 

Menurut Ustad Adriano Rusfi, sejak anak berusia 4 tahun, ajarkan anak untuk menanamkan rasa cinta terhadap sesuatu. Misal ia punya buku, tanamkan ke anak kalau kita sayang ke buku ini, bukunya dirawat, disimpan di tempatnya, dijaga. Setelah menanam rasa cinta pada anak mulai usia 4 tahun, nanti berlanjut menanamkan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan pada barang-barang mulai usia 7 sampai 10 tahun. Nanti naik lagi tingkatannya yaitu tanggung jawab sosial dan lingkungan usia 10-12 tahun. Persiapan Aqil Baligh by Adriano Rusfi:
  1. Mengajarkan anak bersyukur atas apa yg dimiliki
  2. Ingatkan pada anak, bahwa ada anak lain yang tidak memiliki hal tersebut
  3. Menunda permintaan anak
  4. Belajar berjuang untuk mmiliki sesuatu
  5. Ajari anak untuk mencari nafkah saat berusia 10 tahun
Peran ayah dalam persiapan aqil baligh adalah sebagai raja tega. Sedangkan ibu lebih berperan sebagai pembasuh luka. Ayah dan ibu saling mendukung, bukan bersebrangan. Ketika ayah dan ibu menjalankan fitrahnya dengan baik, lahirlah manusia yang aqil dan baligh secara bersamaan.

Pola pendekatan sebagai ibu dan ayah saat membersamai anak-anaknya menurut Ali bin Abi Thalib adalah: 
  • 0-7 tahun jadikan ia raja.
  • 7-14 tahun jadikan ia tawanan.
  • 15-21 tahun jadikan ia duta.
  • 21-... tahun jadikan ia pemimpin.
Diatas 15 tahun, maka anak kita bukan anak kita lagi. Dia sudah menjadi pemuda, maka jadilah partnernya, bukan menganggapnya sebagai bocah atau remaja. Dunia islam tidak mengenal istilah remaja, masa remaja masa yang tidak perlu ada, maka hapuskan masa remaja. Jika tak anda didik anak-anak anda menjadi aqil baligh, untuk apa anda ajarkan mereka agama?

Pesan untuk ayah: Anda sudah setara dengan anak anda, maka berhentilah menganggap mereka anak-anak. Mereka sudah mukalaf dan tidak wajib dinafkahi, maka persiapan kedewasaan dan kemandirian mereka sejak usia 10 tahun, agar mandiri di usia 14 Tahun ( Aqil Baligh). 

Pesan untuk ibu: Anda boleh tetap mencintai dan menyayangi anak anda yang sudah dewasa atau Aqil Baligh, namun jangan jerumuskan anak anda dengan kemanjaan dan pembocahan yang membunuh dirinya kelak. Anda harus menjadi Ratu Tega

Pesan untuk usia 15 tahun: Anda sudah menjadi pemuda, sudah setara dengan ayah ibu anda. Anda sudah baligh maka segerakan aqil anda dengan memantapkan fitrah anda, fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah keimanan anda agar mencapai peran peradabanmu pada usia ini. 

Silakan cari jawabannya, renungkan, praktekkan, dan bisa dibahas kapan-kapan kalau luang atau kalau ingat.
  1. Remaja itu siapa?
  2. Mengapa ada istilah Remaja?
  3. Apa bedanya Remaja dengan Pemuda?
  4. Bolehkah memboarding anak SEBELUM AQILBALIGH?
Sumber materi: Fitrah Based Education - Ust. Harry Santosa

#Gamelevel11
#Day1
#KuliahBunSayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.