Skip to main content

Game Level 8 - Cerdas Finansial (9)

Bismillah..

Hari ini apa ya yang berhubungan sama finansial? Wkwkwk. Rasa-rasanya sih masih sama aja kaya sebelum-sebelumya. Monoton ya? Ihihi.

Kalau bahas tentang keinginan dan kebutuhan, sebetulnya selama ada di lingkungan rumah, Fatih termasuk yang mudah mengerti keadaan dan gak neko-neko orangnya. Mudah diajak negoisasi. Kalau ada orang lain atau lagi di tempat umum, hmmmm ini nih yang kadang masih harus pinter-pinter negosiasinya.

Seperti waktu kami lihat-lihat ke Mr. DIY, Fatih ikut lihat-lihat dan menemukan tumblr lucu berwarna ungu untuk anak usia TK lah. Fatih langsung ambil dan berbinar memberikan tumblr itu pada kami. Papanya memberi pengertian kalau itu untuk nanti kalau Fatih sudah sekolah. Ditambah harganya ya lumayan untuk barang yang masih bakalan jaraaaang banget dipakai. Doi mengiyakan, tapi tetap ingin membelinya sekarang. Susaaah banget dinegonya. Akhirnya tumblr tadi masuk ke keranjang tapi tanpa sepengetahuan Fatih saya taruh lagi ke tempatnya semula. Untungnya, anaknya gak inget sama sekali pas di kasir. Ingat-ingat pas di rumah kami unboxing belanjaan. “Lho, tempat mimi kaka mana yang warna ungu?” Mulai muka mau nangis barulah kami bilang, “Kakak masih belum sekolah, jadi aja gak dibeli deh. Nanti kalau mau sekolah baru kita beli ya.” Lalu sebelum anak ba bi bu lagi kami mulai mengalihkan perhatian Fatih ke hal yang lain. Dan voila~ Diapun lupa~

Beda dengan berada di lingkungan rumah, seperti tadi sore saya perlu ke warung untuk beli gula dan seperti biasa doi ingin ikut. Sedari rumah sudah buat kesepakatan, kakak mau ikut tapi gak jajan. Fatih menyanggupi dan memang lancar jaya tanpa ada acara tunjuk-tunjuk jajanan. Sepulang dari warung, kami lihat ada odong-odong di ujung jalan. Fatih terdengar girang saat bilang, “Mama, mama itu ada odong-odong liaaat!” Saya pun mengiyakan dan Fatih tiba-tiba bilang, “Tapi mahal, Mama.” Jleb, ahaha. Doi sadar sendiri ketika sebetulnya dia ingin naik odong-odong itu, tapi ada hal yang bikin gak mungkin dijabanin, mahal misalnya. Mungkin itu juga alasan yang paling sering Fatih dengar dari saya, wkwkwk. Maaf ya, Nak. Padahal kalau lagi di mall atau tempat umum dibilangin mahal juga masih suka keukeuh pingin aja, hahaha.

Meskipun sebetulnya kami mampu membelikan, tapi rasanya ada keharusan kami untuk membatasi apa dan kapan kami boleh membelikan sesuatu untuk Fatih. Sebisa mungkin Fatih harus bijak, lebih baik dari mama dan papanya. Semangat yaa~

#hari9
#gamelevel8
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#cerdasfinansial
@institutibuprofesional

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.