Skip to main content

Game Level 8 - Cerdas Finansial (6)

Bismillah..


Sesuai perjanjian saat beli susu satu dus, Fatih hanya boleh minum susu 2 buah dalam 1 hari. Bebas mau diminum sekaligus atau pagi satu, sore 1. Selesai sarapan, Fatih meminta izin untuk minum susu 1 yang sudah disimpannya di kulkas dari semalam. Habislah ya ceritanya.

Sekitar pukul 9 apa 10an gitu ya, saya bilang ke Fatih mau tidur dulu sebentar, mata beraaaat banget rasanya. Akhirnya saya ke kamar, Fatih lanjut nonton TV sambil main mobil-mobilan. Gak tau deh jam berapa, Fatih ke kamar, lalu bilang mau ikut tidur sama saya.

Adzan dzuhur terdengar, saya bangun lalu shalat. Lanjut bikin ager kesukaan Fatih. Pas mau masukin ager ke kulkas, ehhhh ko gak ada susu? Hmmmm, berarti Fatih udah minum jatah susunya hari ini~

Fatih tidur agak lama, pas bangun yang ditanya adalah, "Eh mama udah bikin ager belum?" Saya cuma suruh doi lihat aja di kulkas ada atau ga. Daaaaaan girang banget pas liat agernya ada di kulkas~ Doi mau ambil tapi saya langsung inget soal susu yang harusnya sisa satu di kulkas itu.

"Eh kaka susu yang di kulkas kemana ya?"
"Udah diminum sama kaka, kan tadi mama bobo. Kaka mimi deh susunya." Jawabnya lucu 😂
"Oh yaudah, berarti udah ya besok lagi mimi susunya." Jawab saya singkat karena keburu dipotong oleh Fatih.
"Mama kaka mau agernyaaa," sambil ditenteng itu ager dalam stik es krim.
"Nanti ya jam 15.00. Sekarang masih jam 14. Abis 14, 15. Ok?"
"Tapi kaka mau sekaraaaang."
"Biar dingin dulu yaa tunggu sampai 15.00"

Ya begitulah negosiasi kami, kalau dibilang gak boleh atau nanti, dia bingung dan malah tantrum karena gak paham kapan bolehnya atau nanti itu kapan. Penting untuk Fatih tahu kapan boleh dan tidak boleh, seenggaknya kalau ingin sesuatu Fatih harus bisa bersabar, gak harus saat itu juga diikutin kemauannya. Ini jadi PR berulang tiap habis main sama nene kakenya, hihi.

Teng, jam di HP menunjukkan pukul 15.00. Iya, Fatih mantengin banget jam di HP sesekali sambil main legonya. Udah jam 15.00 doi teriak-teriak kegirangan dan izin lagi, "Sekarang boleh? Udah jam 15.00." Saya cuma ngangguk dan doi melesat ke dapur~


Kali itu saya kasih Fatih dua stik aja. Sisanya nanti tunggu Papa pulang. Alhamdulillah Fatih menurut dan menyimpan agarnya lagi di kulkas. Dan betul aja, Papanya pulang, diboyong lagi itu agarnya dan dimakan sampai habis 😂 Papanya dikasih satu stik aja 🙊

Gak berapa lama, tangan doi mulai merayap-rayap ke dus susu. Susunya dibawa ke kamar dan siap dibuka. O ow~ Kan udah limit yaa maksimal 2 per harii~ Papanya bilang, buat Papanya aja. Fatih bisa juga ngelesnya, susunya itu buat berdua sama Papa katanya, doeeeng~ Akhirnya yasudah saya bilang, "Yaudah kaka minta sekali, abis itu diabisin ya ama Papa." Bener dong, diminum seregot (halah seregot) doang abis itu dikasih Papanya dan diminum Papanya sampai habis. Setelah itu Fatih menawarkan untuk buang sampah susunya. Melihat Fatih masih berusaha pegang komitmennya, saya bilang ke Fatih untuk ambil 2 susu dari dus, terus taruh di kulkas untuk besok. Doi pun senang dan bilang, "Sekarang bobo dulu, besok minum susu lagi?" Jawaban iya dari saya langsung membuat Fatih bersemangat menyetok susu ke dapur.

Alhamdulillah, masyaallah tabarakallah. Semoga Fatih selalu diberi kesabaran, rendah hati, dan dijauhi dari sifat boros yaaa :"D

#hari6
#gamelevel8
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#cerdasfinansial
@institutibuprofesional

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.