Oleh: Dena Ambar Sary
Felix Siauw, Asma Nadia, Andrea Hirata, A Fuadi, Tere Liye, Pipit Senja, Dee Lestari, dan Nasrudin Joha. Nama-nama tersebut muncul ketika pertanyaan "Siapa nama penulis yang kalian kenal?" dilontarkan di dalam kelas hari itu. Kenapa nama-nama tersebut yang muncul? Menurut cikgu Asri, kita menyebut seseorang itu penulis karena mereka orang yang menerbitkan buku atau novel, menggunakan bahasa sastra yang indah tingkat tinggi, fokus kerja di bidang kepenulisan, dan terkenal karena tulisannya best seller atau viral. Betulkah?
Felix Siauw, Asma Nadia, Andrea Hirata, A Fuadi, Tere Liye, Pipit Senja, Dee Lestari, dan Nasrudin Joha. Nama-nama tersebut muncul ketika pertanyaan "Siapa nama penulis yang kalian kenal?" dilontarkan di dalam kelas hari itu. Kenapa nama-nama tersebut yang muncul? Menurut cikgu Asri, kita menyebut seseorang itu penulis karena mereka orang yang menerbitkan buku atau novel, menggunakan bahasa sastra yang indah tingkat tinggi, fokus kerja di bidang kepenulisan, dan terkenal karena tulisannya best seller atau viral. Betulkah?
Setelah berpikir ulang, ternyata memang itulah mindset yang tertanam dalam diri saya. Penulis itu yang tulisannya diamini banyak orang. Inilah yang membatasi ruang gerak dan berpikir saya dalam menulis. Standar sebuah tulisan yang bagus itu yang banyak dibagikan, banyak orang yang setuju, dan bahasanya indah. Pokoknya seperti karya nama-nama yang disebutkan di atas. Hasilnya, jangankan menulis panjang, mengemukakan opini sendiri saja proses berpikirnya rumit dan berujung pada share, regram, retweet tulisan orang yang menurut saya, "Nah ini nih yang ingin saya omongin."
Lalu saya disadarkan bahwa fokus kebanyakan dari kita adalah bagaimana menjadi penulis dan melupakan esensi kenapa harus menulis. Padahal, saat kita chatting, menulis status, tweeting, semuanya adalah proses menulis. Meskipun isi dari cuitan kita adalah hal umum seperti, "Heran deh sama orang-orang yang maksa lewatin palang pintu kereta padahal udah ditutup. Kan bahaya," atau, "Baru tahu dong, ternyata 10 permen Milk*ta sama dengan segelas susu!" Namun ada dorongan, strong why, kenapa kita harus menuliskan dan membagikannya di media sosial kita. Ada keresahan dalam diri kita yang menginginkan orang-orang sadar akan masalah tersebut, dan ada kebenaran yang ingin kita bagikan.
Melihat banyaknya tulisan yang mengdiskreditkan Islam dan fakta-fakta yang diputarbalik saat ini, geram rasanya jika hanya berdiam diri, lama menunggu hingga ada tulisan yang isinya mewakili. Inilah yang menjadi awal rasanya ada keharusan untuk menulis. Karena, kenapa harus menunggu? Kenapa tidak kita yang memulai? Takut salah? Padahal standar benar salah kita jelas berdasarkan nilai-nilai Islam. Takut dirundung? Berarti konten kita berpengaruh hingga menimbulkan reaksi dari pembaca. Takut tidak ada yang baca? Tenang, kata Mba Asri, "Setiap tulisan akan bertemu jodoh pembacanya." Ya itulah pertanyaan-pertanyaan yang menghantui saya sekaligus jawaban yang saya dapatkan setelah bergabung di kelas.
Bahwa apapun jenis tulisannya, sejelek apapun struktur dan bahasanya, fokus pada kebenaran yang harus disampaikan.
-Asri Supatmiati-
Jadi, bismillah. Semoga niatan untuk menyerukan kebenaran ini bernilai pahala dan dapat membawa kebaikan bagi yang membacanya.
Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang adamu di dunia dan amalmu di akhirat kelak.
-Helvy Tiana Rosa-
#PR2KelasBasic
#Revowriter20
#Kelasmenulisonline
Comments
Post a Comment