Skip to main content

Game Level 8 - Cerdas Finansial (12)

Bismillah..


Hari ini banyak acara tidak terduga. Saya yang ke bank sendiri selama kurang lebih 3 jam, pulang-pulang dapat laporan Fatih nangis nyariin saya 😂 Maklum perginya juga pas Fatih tidur, hehe.

Ba'da maghrib papanya Fatih mendadak ngajak ke dokter gigi untuk scalling sekaligus cek gusinya yang belakangan ini sering sakit. Setelah cari-cari dokter, akhirnya kami memutuskan ke RS Mandaya. Dalam keadaan belum pada makan, kami cuss langsung pergi kesana.

Biasanya, kalau ke RS Mandaya pas saya kontrol kandungan, Fatih itu sering jajan ke Ind*maret. Yang pasti beli susu atau ciki. Tadi, pas sampai di Mandaya dan papanya mulai salatri, suami mau makan roti tapi gak ada minumnya. Galau kalau ke minimarket pasti Fatih jajan. Jadilah kami negosiasi di tempat, lebih tepatnya sih menegaskan ke Fatih kalau doi gak boleh jajan. Surprisingly, Fatih mengiyakan dan hanya sesekali menengok papanya yang lagi ke minimarket.

Balik dari minimarket papa Fatih beli air mineral dan teh rasa madu dan lemon  uat saya. Fatih? Gak dibeliin apa-apa 😂 Dan Fatih gak protes dong, alhamdulillah~ Fatih cuma minta sepotong roti yang dibawa papanya sama minta minuman saya dikit. Bangga sekali rasanya anak kita gak neko-neko :") Malah jadinya suka pingin ngasih jajan lebih #eh ahaha..Saking nurut dan jarang jajan maksudnya :")

Alhamdulillah 'ala kulli hal...

#hari12
#gamelevel8
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#cerdasfinansial
@institutibuprofesional

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.