Skip to main content

Belajar untuk Menulis

Bergabung dengan Revowriter sama dengan menjatuhkan pilihan dimana saya akan tumbuh untuk mengembangkan diri. Diskusi pertama pada 9 Desember malam menjadi titik awal bagi saya juga peserta lain untuk mengosongkan diri, menghilangkan stigma bahwa menulis itu harus bagus seperti penulis-penulis terkenal.
Menulislah, walau hanya sejelek-jeleknya.
-Asri Supatmiati

Seperti bibit bunga yang ingin tumbuh, tentu harus ditanam di media yang tepat dan dirawat sesuai dengan jenisnya. Begitulah berada di komunitas ini, saya dan teman-teman mulai "dirawat", diajak untuk mulai menulis. Pun berada disini saya tidak merasa sendiri, saya menemukan teman-teman yang sama-sama ingin menebarkan manfaat juga kebenaran melalui tulisan. Semangat mereka menjadi motivasi lebih untuk saya menulis. Tugas pertama dan kedua saja yang deadlinenya masih lama sudah banyak yang mengerjakan 😄

Bismillah.
Semoga bisa istikamah, ya. Semangat!

-Dena Ambar Sary-

#PR1kelasbasic
#revowriter20
#kelasmenulisonline

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.