Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (14)

Bismillah~


Setelah hampir 2 minggu bahas Fatih terus, boleh dong ya sekali-kali bahas diri sendiri, ehehe~

Kalau disebut mandiri, pengalaman termandiri saya itu adalah setelah menikah 🙈 Mau pernah hidup di negeri orang maupun di rumah orang, masih belum seberapa dibanding mandiri setelah menikah, buat saya mah gitu sih. Hari pertama diboyong ke Karawang aja, saya langsung reumbay pas mama pulang, hahaha. 

Cuci atau beres-beres sih gak masalah ya. Tantangan tersulit buat saya itu 1, masak. Tahu bedanya jahe, laja, kunyit, cikur aja abis nikah. Belanja ke pasar sendiri aja abis nikah. Pokoknya modal permasakan saya saat awal nikah itu 0 besar~

Mulailah belajar masak dari resep-resep yang bersliweran. Apalagi suami pulang ke rumah juga buat makan siang. Awal nikah 2015 itu belum tersentuh Cookpad, resep asal comot dan ya gitulah, hahaha. Masak capcay asin banget dan fix gak enak eh tetep dimakan ama suami. Pingin nangislah pokoknya.

Sampai akhirnya 2019 ini IG dan Cookpad adalah andalanque. Pokoknya, kalau masak itu harus resep tok. Gak bisa neko-neko atau dikira-kira. Mau duplicate dish mertua aja sampe nanya bawangnya berapa biji, saus tiramnya berapa sendok. Udah dikasih tau masih beda juga rasanya, HAHAHAHA. Dan kalau plan internetku habis, ya udah deh bye~ Ku tak bisa masak.

Paling bingung juga kalau udah sesuai resep, TAPI rasanya aneh gatau kemana, kurang apa, harus gimana. Suamipun bilang, "Gak tau ini kaya kurang apa ya." Karena suami sih emang tau makan aja dari dulu, dan mama mertuaku jago banget masaknya 😭 Nyeletuk si suami bilang, "Masaknya jangan kepatok resep coba. Pake feeling aja." Cintaku yang kutuangkan pada masakan macam kebanyakan garam kali ya, asin dan gak bikin enak :(

Masuk bulan ramadhan ini jadi satu alternatif juga buat saya belajar pake perasaan masaknya #tsaah. Gak bergantung sama resep, dikira-kira aja gitu. Apalagi kan gak berani nyicip, takut kebablasan, hohoho. Kemarin bikin batagor ala abang-abang, terus hari ini bikin capcay sama telur balado. Alhamdulillah batagor masih edible lah, asinnya gak asin banget, gak tawar juga. Capcay pun pas udah magrib dicobain ternyata cukuplah rasanya, gak harus ditambah apa-apa lagi 😍 Cuma ya gitu, masak beres eh suaminya masih di kantor ampe jam segini 😂 Alamat gak kemakan sih.

Jadi intinya, ya eksperimen aja lah, dikira-kira. Kasih dikit-dikit aja dulu gula garamnya, kalau nanti udah buka dicobain kurang, ya tinggal tambah. Enak atau gak ya yang penting bisa dimakan dulu aja deh. Siapa tau nanti skill nya ningkat, aamiinin dulu aja ya~ Semangat semangaaat~

#hari14
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.