Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (12)

Bismillah~

Ada yang baru hari iniii~ Hari ini Fatih bilang kalau doi mau pup! Bilang dan langsung mau ke kamar mandi aja sih, pupnya mah ga keluar. Cuma ini kemajuan yang sangat dinantikan karena Fatih mau ke kamar mandi pas mau pup tanpa drama :")

Biasanya, saya yang harus observasi gerak gerik atau tanda-tanda apa Fatih mau pup atau gak. Tadi tanpa disuruh Fatih langsung laporan sambil pegang perutnya, mirip kaya di buku tentang pup yang sering Fatih baca. Sounding nya berhasil kali ya? Minimal doi udah tahu rasanya mau pup dan apa yang harus doi lakuin. Soal pupnya gak keluar mah ya udahlah ya, yang penting anak gak anti sama WC lagi. Udah mau jongkok di WC aja alhamdulillah~

Terus biasanya Fatih bisa lepas celana sendiri kalau mau pipis. CUMA, ternyata bisa dan maunya kalau sayanya ngeliatin, dan bantu kalau perlu dibantu. Karena tadi pas saya lagi shalat, Fatih pingin pipis! Padahal baru bangeeeet mulai shalatnya. Alhasil doi tahan pipisnya sampe saya beres shalat. Pas ditanya kenapa gak lepas celana sendiri jawabannya adalah, "Mau sama mama liat kaka~" Kaaaaaan~

Jadi PR lagi nih, harus mau lepas celana sendiri kalau udah kebelet gitu. Kan kasian juga kalau harus nahan-nahan nunggu saya yang lepasin. Yuk kita biasakan lagi~ Semangaaat!!!

#hari12
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.