Skip to main content

Game Level 2 - Melatih Kemandirian (11)

Bismillah~

H-1 ramadhan! Artinya pahala akan berlipat ketika kita bersabar~ Contohnya, bersabar saat anak mulai lancar toilet training, dan mulai pintar juga menahan pup juga pee nya.

Waktu Fatih lagi main di kasur karpet, tiba-tiba doi bilang, "Mama! Kaka mau pipis!" Ya otomatis dong ya saya langsung meng-hayu-kan. Eh tapi anaknya malah lanjut main. Ketika ditanya mau pipis atau gak, jawabannya adalah, "Nanti aja, kaka mau main Lego dulu." Ya saya ajak lagi kan, tapi anaknya keukeuh mau main dulu katanya. Yasudah, saya lanjutin kegiatan saya. Ada sekitar 10 menitan, Fatih teriak-teriak sambil bangun terus kakinya saling silang macam nahan pipis udah di ujung tanduk. Pertahanan untuk lepas celana sendiri pun bubar sudah~ Dan betul aja, pas dibuka ternyata doi udah pipis dikit di celana terus sisanya ditahan dan dikeluarin di kamar mandi, ckckck.

Sambil cuci celananya saya sounding lagi kalau memang ingin pipis, langsung bilang dan ke kamar mandi. Selesai pipis kan bisa main lagi. Akhirnya ya Fatih bilang iya dan setelah bersih-bersih, pakai celana lagi, terus main lagi deh. Untung aja gak sampai keluar semua pipisnya, repot dong ya kalau sampe harus nyuci kasur karpet 😂 Tantangan baru, semangat baru~

#hari11
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.