Skip to main content

Game Level 9 - Think Creative (6)

Bismillah.


Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga~ Rencana khitan dadakan ini bener-bener bikin berasa dag dig dug saya dan suami 😂

Tantangannya adalah, bagaimana kami sebagai orang tua sebisa mungkin bikin sunatan itu hal yang biasa aja dan gak jadi trauma ke depannya. Dibilang berpikir kreatif, gak tau sih ya, wkwkwk. 

Pasca khitan Fatih merasa ada benda asing dong ya di alat vitalnya. Tantangannya adalah biar Fatih mau minum obat, mau pipis, dan mau mandi. Gak gampang nyuruh Fatih minum obat pertama kali. Pasti ada rasa takut pahit dan lain-lain. Hari pertama berakhir dengan "paksaan". Hari kedua hanya saya dan Fatih, lalu saya mencoba mengarahkan Fatih untuk berpikir bahwa obat ini pesawat bawa air jingga, terus Fatih harus cepet-cepet minum biar air jingganya cepet ke perut.


Begitupun dengan pipis dan mandi. Kami bercerita bahwa klampnya itu bilang, katanya "Aku pingin mandi, aku pingin berendam~" Sampai akhirnya Fatih mulai memahami oh si putih alias tabung klampnya itu pingin berendam. Mau deh, malah kesini-sini si klampnya dimainin ombak-ombakan selama berendam, jadi perahu katanya, kadang jadi tembakan, ah ada-ada aja pikirannya 😂

Alhamdulillah, berasa tenang udah khitan Fatih. Semoga segera pulih yaa ❤

#harike6
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.