Skip to main content

Game Level 10 - Grab Your Imagination (3)

Bismillah.

Yang namanya Fatih, nemu tempat luas buat lari-larian kayanya gak lengkap kalau gak lari-larian. Sama kaya pas nemenin papanya beli baju. Fatih gak mau diem lari-lari terus kesana kesini.


Sampai akhirnya ada himbauan melalui speaker mall untuk menjaga barang dan anak-anaknya 😁 Fatih pun bertanya apa kata mall. Ya saya bilang ulang apa himbauannya.

"Orang lain ada yang ilang ya, Ma?"
"Anak-anak harus diem deket mama sama papanya. Jangan lari jauh-jauh."
"Kalau lari jauh-jauh, nanti ilang ya, Ma?"
"Iya."
"Nanti nangis ya? Mama mana? Papa mana? Gitu?"
"Iya. Kalau kaka lari-lari kaya tadi, terus mama sama papanya pergi, kaka gak tau."
"Terus kaka nanti cari-cari mama ya?"
"Iya, nanti mama sama papa juga cari-cari kaka."

Lanjutlah kami ber-what if keadaan di mall. Sampai akhirnya anaknya pun gak lari-larian lagi.


Gak banyak cerita fiktif sih ya, seringnya kami berandai-andai sesuai apa yang pernah kami lihat. Kaya di mall aja obrolannya lebih ke "Bagaimana kalau.....kaka ilang, kaka diajak orang lain, dll." Jadi semacam bikin skenario membayangkan apa yang akan terjadi dan apa yang bakal kita lakukan.

Yang pasti, jawabannya harus bener. Soalnya anak bener-bener ngerekam apa yang kita bicarain saat itu. Jangan sampai deh keluar jurus, "Kan kata mama waktu itu......" 😂 

Jadi, ada cerita apa lagi y?


#Harike3
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.