Skip to main content

Game Level 9 - Think Creative (3)

Bismillah.


Punya suami yang condong karnivora ya berarti harus siap untuk makan dan ngolah daging-dagingan. Salah satu hobinya itu manggang daging dan kalau harus jajan macam ke Raachaa atau Pochajjang lumayan dong ya dompet terkuras 😂 

Hari itu suami lagi ngebet banget pingin makan daging panggang. Dalam keadaan cuaca yang syahdu kayanya gak mungkin juga kami sekeluarga makan di luar. Jadilah kami iseng-iseng manggang di rumah aja.

Tadinya, mau beli daging yang memang buat di-grill gitu. Tapi pas pak su pergi ke supermarket gak lihat ada yang dipack macam yang kami lihat di Google. Akhirnya melalui video call kami memilih-milih daging rendang dan nanti aja potong-potong tipis sendiri di rumah, wkwkwk.


Gak berapa lama, eh ternyata ada daging yang khusus sukiyaki baru dimasukin. Ya udah deh nyobain aja beli 1 pak. 


Setelah suami lanjut belanja buat keperluan bikin seafood tomyam, pulanglah doi dan mulailah persiapan masak-masaknya~

Saya bikin tomyam dan kami gantian ngirisin dagingnya. Iya gantian soalnya kami sama-sama g bisa ngiris daging tipis-tipis, wkwkwk. Ah yang penting bisa dimakan lah ya, wkwkwk.

Setelah tomyam jadi, saos-saosan sudah siap, maka taraaaaa~ Jadilah masak-masakan depan TV 😆



Yaaa puter otak ajalah ya gimana caranya biar bisa makan enak dengan hemat :D

#harike3
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.