Skip to main content

Game Level 3 - Family Project (2)

Bismillah~

Dalam 10 hari (atau lebih) ke depan, kami akan melaksanakan family project dalam mengoptimalkan kecerdasan Fatih (3y2m). Poin-poin yang ingin dilatih adalah:
1. Mengenal Allah
2. Membiasakan shalat
3. Membiasakan mengaji dan do’a sehari-hari
4. Menghafal An-Naas dan An-Naba’
5. Menghafal bentuk alfabet kecil

Banyak ya? Iya, tapi semua itu masih berhubungan satu sama lainnya dan fokus pada pengenalan akidah Islam. Saya yang menghabiskan waktu seharian dengan Fatih berperan menjadi pengawas, pembimbing, sekaligus rekan belajar bagi Fatih. Papanya jadi pengawas Fatih sama saya, hahaha. Kadang saya juga tidur kelupaan ajak Fatih baca doa tidur, jadi suami suka mengingatkan. Terus bagian muroja’ah juga, jadi Fatih setor hafalan dan dikoreksi papanya. Jangan bayangin ini kaya sekolahan, ya? Yang belajar terus, abis itu ujian, hahahaha. Anak 3 tahun mah belajarnya dibawa main aja~

Karena kami ingin Fatih senang dan tertarik alias belajar tanpa paksaan, saya dan suami menyediakan media pendukung dan biar anaknya yang memilih. Sebisa mungkin kami membuat suasana rumah yang memang diperuntukkan untuk perkembangan yang ingin dicapai. Untuk target kali ini, kami menyediakan:
  1. Buku Allah Ciptakan Tubuhku (Amalia Kartika Sari, 2017)
  2. Buku Iqra (KH. As’ad Humam, 2017)
  3. Murattal (Berbentuk video dan diputar di TV. Qari: Muzammil, Ahmad Saud)
  4. Video shalat (Muzammil dan ust. Abdul Qodir)
  5. Video Asmaul Husna (ESQ)
  6. Lagu Astagfirullah (Hadad Alwi)
  7. Buku Aku Pandai Mewarnai (Cahaya Ilmu, terdapat gambar untuk diwarna dan asmaul husna. Hasil random nemu di toko buku harganya 3.500 kalau gak salah, hehe)
  8. Puzzle alfabet kecil bentuk kupu-kupu.
  9. Papan tulis magnet.

Sebetulnya media tersebut sudah ada dari dulu-dulu-dulu (kecuali puzzle yang memang bertahap dan Iqra yang dimaling, eh tetep ye dibahas), cuma sekarang lebih intens digunakannya, karena ya Fatihnya juga mulai ada keinginan untuk ngaji bareng setiap video shalat atau murattal diputar. Buku Iqra Fatih diupgrade jadi yang peruntukkan belajar ngaji, bukan yang unyu-unyu lagi. Karena nanti juga baca Alqur’an ada aturannya, tampilannya begitu-begitu aja, jadi sebisa mungkin Fatih terbiasa dan tetep suka. Mainan dan buku di luar tema itu tersedia dan bebas Fatih baca dan mainkan.

Lalu kita coba breakdown lagi poin-poin tersebut jadi indikator mendetail yang ingin diraih dan apa yang harus saya dan suami persiapkan.

1. Mengenal Allah
Dari buku Allah Ciptakan Tubuhku, alhamdulillah jadi bekal Fatih untuk tahu Allah itu siapa sih. Semisal pernah saat baca buku tersebut ada tentang penciptaan manusia dalam rahim, lalu Fatih berdo’a sambil menengadahkan tangannya. “Ya Allah, kaka mau dede bayi.”
Mengenal Allah disini mengenal apa saja yang Allah sukai dan tidak sukai (fokus pada akhlak). Contohnya, berkata jujur melalui bercerita kegiatan sehari-hari pada papanya, makan dengan tangan kanan, duduk ketika minum, mengucap dan menjawab salam, berterima kasih, meminta tolong dengan baik, meminta maaf, dan lain-lain.

2. Membiasakan Shalat
Membaca 1 surat pendek dalam satu raka'at (karena Fatih masih suka ngeborong sampe 3 surat pendek dalam satu rakaat).
Membedakan bacaan ruku’ dan sujud.

3. Membiasakan mengaji dan do’a sehari-hari
Membaca Iqra saat saya baca Alqur’an dan membaca Iqra bersama-sama.
Membaca do’a makan, do’a tidur, do’a untuk orang tua selepas shalat, doa ketika bersin, istighfar.

4. Menghafal An-Naas dan An-Naba
Melancarkan ayat 4-6 surat An-Naas.
Menambah hafalan An-Naba (ayat 6-10).

5. Menghafal bentuk alfabet kecil
Membedakan huruf-huruf yang mirip seperti b,d,p,q,n,u.

Kok di antara pengembangan kecerdasan yang kebanyakan spiritual tiba-tiba ada menghafal alfabetnya? Ya gak apa-apa sih, sekalian aja mumpung anaknya mau juga, hahaha. Karena Fatih sudah tahu huruf kapital, doi suka iseng-iseng baca tulisan apa aja dimana aja. Ketika ada yang tulisannya gak kapital, doi bingung, “Kok A gitu? Kok G gitu?” Akhirnya mulailah merambah ke huruf kecil dan doi semakin antusias mengeja tulisan di TV, mobil, pasar, bungkus makanan, dan lain-lain. Hari ini pun tahu-tahu doi niru tulisan di meja belajarnya. Dan yang lebih out of the box nya lagi adalah doi menulis ini di papan tulis magnetnya. Note: Kaidah penulisan Fatih masih dari kanan ke kiri.

D-D-Ba-i 😂

Dengan tahu alfabet juga jadi permainan yang menarik untuk killing time macam waktu macet-macetan kemarin. Bacain plat nomor mobil sebelum mobilnya maju lagi, hahaha. Selain itu, dengan mengetahui angka juga cukup membantu dalam proyek ini. Semisal dalam menghafal surat pendek, papa Fatih selalu memotivasi dengan menyebutkan, “Wah kaka hebat udah hafal lima ayat! Mau ayat yang ke enam gak?” Alhasil melihat angka yang semakin besar anakpun makin semangat, “Mau!” Atau saat menghafal kami sering tawar menawar, “Kaka mau 3 kali aja bacanya,” ketika saya lagi-lagi mengajak Fatih mengulang ayat yang sama.

Semangat ya!

Reminder: Kita buat anak tertarik untuk belajar, bukan dipaksa untuk belajar. Ciao~

#hari2
#gamelevel3 
#tantangan10hari 
#myfamilymyteam 
#kuliahbundasayang 
@institut.ibu.profesional

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.