Skip to main content

Game Level 3 - Family Project (10)

Bismillah.

Ting ting ting ting...ting ting ting ting...


👦: "Mama, itu suara apa?"
👩: "Oh, itu suara mamang susu kedelai."
👦: "Susu?"
👩: "Iya susu."
👦: "Kaka mau susu, mama. Kaka lama lama lama lama ga minum susu."

Dan begitulah pagi ini, mendengar mamang susu lewat Fatih ingin beli susunya. Tapi ya saya gak beliin, makin lama mamangnya makin jauh, jadilah alasan ke Fatih, "Yaaah mamangnya udah jauh."

Menjelang siang, terdengar lagi suara mamang susu Nas*onal.

👦: "Mama, itu susu. Kaka mau beli."
👩: "Mama gak ada cicisnya ka 😔"
👦: "Mama cicis abis?"
👩: "Iya cicisnya abis gimana dong 😔"
👦: "Kan ada uang kaka."
Doeeeeng~

Karena malah ngobrol, jadilah si mamangnya makin jauh, hahaha. Sebetulnya saya dan suami sedang menjalankan proyek mengenai pengelolaan keuangan keluarga. Jadi di akhir bulan ini, memang saldo di rumah kosong, wkwkwk. Abis gitu maksudnya 😆 Bertekad gak ngambil tabungan dan jadi titik awal untuk melihat sirkulasi keuangan per bulannya itu gimana. Selain itu jadi pengerem juga supaya gak berlebih-lebihan dalam berbelanja, kebayanglah ya gimana uangnya itu di-eman-eman banget sesuai prioritas. Nah soal uang si kakak, itu uang waktu lahiran sampe angpau lebaran doi dari taun kemarin, wkwkwk.

Proyek ini juga sekaligus melatih kecerdasan Fatih ketika keinginannya tidak terpenuhi. Semisal tadi yang tentang susu, jadi ya kalau mau bisa-bisa aja pakai uang Fatih. Tapi disini kami belajar untuk tidak tidak memaksakan sesuatu yang memang kitanya tidak sanggup.

Flashback pada hari Sabtu kemarin, kami main ke KCP. Untuk menghibur Fatih, tadinya papanya nawarin untuk naik kereta yang ngelilingin dalam mal. Dipikir-pikir, 25.000 ko berasa sayang aja gitu ya dipake kereta sekeliling doang 😂 Jadilah kami mengajak Fatih ke Fun World. 25.000 itu bisa digunakan di beberapa permainan. Hahaha dasar perhitungan ya 😂

Tibalah sisa saldo tinggal 4.000 rupiah lagi, sedangkan Fatih ingin naik kekeretaan yang harganya 4.900. Tadinya mau nambah beli biar sekalian mama papanya bisa main basket juga 🙈 Tapi gak jadi, karena kami mau konsisten dengan jatah 25.000 itu. Fatih pun diberi pengertian bahwa uangnya tidak cukup untuk kereta api, jadi pilih yang lain aja. Beberapa menit Fatih bimbang, kaya bingung gitu. Saya pun kasih penjelasan dan opsi lain, kalau uangnya kurang untuk kereta api, tapi masih bisa untuk main hujan balon. Setelah menimbang-nimbang akhirnya doi mau main hujan balon.

Begitupun saat tadi di pasar. Setelah belanja, kami melihat ada tukang jajanan, Fatih tanya pada saya,

👦: "Mah, itu baso tusuk?"
👩: "Oh iya itu baso tusuk. Kenapa?"
👦: "Kaka mau baso tusuk, Mama" 

Akhirnya jurus pun saya keluarkan, yaitu memperlihatkan dompet yang berisi sarang laba-laba itu pada anak, hahaha. Saya beri pengertian bahwa cicis habis, dipake belanja keperluan lain. Fatih pun malah berdo'a, "Ya Allah kaka mau cicis." Wkwkwk.

Saya pun mengajaknya pulang, Fatih yang masih mikir ingin baso tusuk malah menghibur diri, "Ma, besok aja ya beli baso tusuk. Minta dulu cicisnya ke papa." Eh ko jadi ke papa 😂

Yasudah saya iyakan, setelah itu saya pun ajak Fatih balap lari ke rumah. Dasar bu ibu mah ya, udah punya anak gak peduli lagi diliatin orang 🙈

Semangat belajar untuk berjuang atas apa yang kita ingin dan impikan yaaa~


#hari10
#gamelevel3 
#tantangan10hari 
#myfamilymyteam 
#kuliahbundasayang 
@institut.ibu.profesional

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.