Bismillah.
-Dena Ambar Sary-
-Dena Ambar Sary-
Setelah mengikuti perkuliahan
Matrikulasi Institut Ibu Profesional angkatan ke-6, saya memutuskan untuk mencoba
“naik kelas” dengan mendaftar kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.
Dengan niat mencari ilmu, maka saya harus tahu mengapa, bagaimana, dan sikap
apa saja yang harus saya perbaiki dalam proses mengikuti pembelajaran di kelas
Bunda Sayang sebagai guidance agar
saya keep on the track.
1. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?
1. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?
Dari Ibnu ‘Umar,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinan pada rakyatnya. Kepala keluarga adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya tersebut. Seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu.” (HR. Bukhari no. 2409)1
Pertanggungjawaban
inilah yang membawa saya pada pembelajaran-pembelajaran agar menjadi seorang
istri dan ibu yang baik, seorang wanita yang dirindukan surga. Salah satu pemenuhan
tanggung jawab tersebut adalah tanggung jawab atas anak. Dimana nantinya akan
muncul pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah saya sudah jadi ibu yang baik? Balasan
apakah yang akan saya dapat ketika anak berdo’a “...sayangilah mereka seperti
mereka menyayangiku diwaktu kecil”? Apakah saya sudah berusaha semaksimal mungkin
selama membesarkan anak saya? Akan seperti apakah anak saya ketika lepas dari
orang tuanya?
Mengikuti kelas
Bunda Sayang adalah salah satu cara untuk saya dapat belajar memaksimalkan
potensi diri sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dan saya siap mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah nanti.
2. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang Anda rencanakan di bidang tersebut?
- Menggali ilmu agama secara kontinu karena naik turunnya iman berbanding lurus dengan frekuensi kita menghadiri majelis ilmu. Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan, maka dengan mempelajari ilmu agama akan berpengaruh pada bagaimana saya berpikir dan bertindak. Pun bagaimana peran ibu rumah tangga yang sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul merupakan salah satu pembahasan yang tidak terpisahkan.
- Terus memperbaiki hubungan secara vertikal antara saya dan Allah SWT, yang diikuti dengan hubungan horizontal terhadap sesama, terutama pada suami dan anak saya. Bersifat lebih terbuka, menurunkan ego, juga memperluas rasa sabar dan syukur.
- Mencari lingkungan yang sefrekuensi, seperti saat ini saya mengikuti Institut Ibu Profesional. Sehingga memiliki teman yang saling mengingatkan dan memotivasi kita ketika kita menjalani proses untuk mencapai tujuan akhir kita.
- Terus belajar untuk meningkatkan kapasitas diri dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan selalu bahagia. Saya harus lebih produktif dan menemukan passion yang dapat dikembangkan.
3. Berkaitan
dengan adab mencari ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam
proses mencari ilmu tersebut?
- Berpikir positif
- Memposisikan diri sebagai fakir ilmu
- Menghargai waktu dengan tidak menunda-nunda
- Bersabar dan ikhlas dalam setiap proses pembelajaran
- Karena mencari ilmu untuk anak, maka tidak mengorbankan anak ketika mencari ilmu.
Hasil Diskusi Studi Kasus dengan Peer Group
1. Program Kuliah Bunda Sayang diikuti oleh Ibu dan Calon Ibu yang memang tertarik untuk mempelajari 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Artinya, keikutsertaannya merupakan komitmen yang hadir dari faktor internal. Dalam perjalanannya, tantangan kesibukan selalu ada. Godaan saat mengikuti jadwal kuliah dan membuat setoran bisa menghampiri. Bagaimana Anda mengantisipasinya?
1. Program Kuliah Bunda Sayang diikuti oleh Ibu dan Calon Ibu yang memang tertarik untuk mempelajari 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Artinya, keikutsertaannya merupakan komitmen yang hadir dari faktor internal. Dalam perjalanannya, tantangan kesibukan selalu ada. Godaan saat mengikuti jadwal kuliah dan membuat setoran bisa menghampiri. Bagaimana Anda mengantisipasinya?
- Berbagi perasaan, keluh kesah, kebingungan pada peer group agar ketika suatu saat salah satu dari kami akan "tenggelam", maka yang lain akan menariknya keluar.
- Mengingat kembali tujuan awal dan akhir mengikuti Bunda Sayang ini dan menghadirkan kembali semangat juang dengan afirmasi diri.
- Komitmen untuk tidak menunda-nunda.
- Penting untuk berada di lingkaran orang-orang yang sevisi agar saling mendukung satu sama lainnya.
- Ingat anak, karena mereka akan tetap tumbuh tanpa menunggu bundanya sedang malas atau tidak bersemangat.
- Berbeda pendapat itu wajar, penting untuk saling menghargai perspektif berbeda dari orang lain.
- Disampaikan dengan bahasa yang baik, mood yang baik, dan tujuannya mengutarakan pendapat, bukan memaksakan orang menerima pendapat atau malah berdebat.
- Jika tidak ada titik temu, maka tidak apa-apa. Namun jika memang perlu sebuah kesepemahaman dengan yang lainnya, maka bisa didiskusikan lebih lanjut, voting, menanyakan atau meminta pendapat pada yang lebih kompeten.
- Share di sosial media sehingga posting-an kita bermanfaat bagi pembaca, baik informasi maupun afirmasinya.
- Menjadi role model di lingkungan sekitar sehingga nantinya lingkungan akan ada ketertarikan untuk mengikuti program yang sama.
Setiap orang pasti
memiliki alasan dibalik keputusannya, pun kita saat ini tidak mengetahui apa
yang akan terjadi kedepannya. Maka apa yang bisa kita lakukan saat ini adalah
berjuang sebisa mungkin untuk menyelesaikan tantangan yang ada. Selalu berusaha
memberikan yang terbaik dan ingat tujuan akhir kita. Jika mengalami kendala,
kembali ke poin pertama untuk share kepada rekan satu grup.
---
Salah satu strategi dalam
menuntut ilmu adalah dengan berada di lingkungan yang positif dan senang
berbagi informasi. Alhamdulillah saya berada dalam peer group yang begitu hangat hingga diskusi mengenai beberapa
studi kasus berjalan dengan sangat baik dan mencerahkan.
Sumber:
1 https://muslim.or.id/21300-tak-perlu-sedih-dengan-status-ibu-rumah-tangga.html
Sumber:
1 https://muslim.or.id/21300-tak-perlu-sedih-dengan-status-ibu-rumah-tangga.html
Comments
Post a Comment