Skip to main content

Game Level 1 - Komunikasi Produktif (2)



Setelah suami sembuh dari demam dan batuknya, sekarang giliran saya dan Fatih yang kompak merasa tidak enak badan. Suara Fatih mulai bindeng dan mulai muncul tanda-tanda pileknya. Saya sendiri kerepotan harus bersin-bersin dengan jeda beberapa detik saja 😷 

Pagi ini, saya kasih pilihan ke suami: mau makan di kantor atau mau beli bubur? Karena saya sama Fatih mau sarapan bubur ayam, makanan orang sakit ceritanya 😂 Suami mungkin bosan waktu sakit makan bubur terus, akhirnya memilih untuk makan di kantor.

Me    : "Ka, nanti mamam sama bubur ya?"
Fatih : "Gak mau, kaka ga mau bubul."

Kebiasaan saya adalah balik bertanya pada anak. 

Me    : "Gak mau? Mau makan sama apa atuh?"
Fatih : "Nasi aja."
Me    : "Yah, nasinya kan abis."
Fatih : "Telol aja."
Me    : "Kan gak ada nasinya."

Fatih berpikir sebentar, terus malah lanjut main lagi dan tidak ada kesepakatan mau sarapan bubur ayam atau tidak. Lagian setelah dipikir-pikir, bubur ayam itu pasti, bukan pilihan 🙈 

Selang beberapa menit mamang bubur lewat dengan kode khasnya teng tereng teng...teng teng...teng. Saya tanya lagi Fatih dengan redaksi yang berbeda.

Me    : "Ka itu ada tukang buburnya. Kaka mau tunggu di sini atau ikut beli bubur?"
Fatih : "Kaka ikut!"

Akhirnya bubur pun jadi dibeli~ Sampai di rumah, saya simpan bubur di dekat kipas.

Fatih : "Mah, bubul masih panas?"
Me    : "Iya sebentar ya, dikipas dulu biar dingin, kata Nussa apa?"
Fatih : "Jangan ditiup, dikipas aja."

Terima kasih Nussa dan Rara (dan Little Giant yang memproduksi) 😄

Pelajaran bagi saya adalah, ketika kita tidak punya pilihan, maka buatlah pilihan yang akhirnya menjurus ke itu-itu juga, hahaha *catet*

Alhamdulillah sekali hari ini tidak ada drama antara ibu dan anak~ Mungkin karena anak belum pup dari kemarin, jadi kami adem ayem sampai sekarang. Sumber drama sih emang pup tuh. Main anteng, diajak tidur siang juga ayok, makan juga lahap. Sampai tadi sore diajak untuk melanjutkan hafalan, eh Fatih masih ogah-ogahan. Jurus andalan pun akhirnya dikeluarkan: Mau baca sama Mama atau sama Bis, Memeng, Jerapah? 😂

  

Alhamdulillah akhirnya mau juga, mudah-mudahan ke depannya semakin lancar dan semakin bagus bacaannya ya, aamiin.

Sebetulnya, kaidah mengganti perintah dengan pilihan pasti pernah dilakukan oleh setiap orang tua. Bedanya, pilihannya itu mengarahkan kemana? Misal:
1. "Mending makan sekarang atau mama ambil nih mainannya?"
2. "Makannya mau sendiri atau disuapin Mama, nak?"
Tujuannya sama-sama ingin si anak makan, tapi pilihannya memberikan hasil yang berbeda. Pilihan 1 anak akan merasa terancam dan makan dengan terpaksa. Sedangkan pilihan kedua anak sudah pasti makan, tapi ada kesukarelaan dan tidak merasa terancam kalau tidak melakukan A, akan dapat B. Yah itu mah teori sotoynya saya aja sih 🙈

Hal yang saya sadari saat ikut game seperti ini adalah kita dipaksa untuk "sadar" dalam berkomunikasi. Artinya.....kita itu memiliki pilihan dalam bertindak dan merespon sesuatu. Apakah kita bisa mengontrolnya atau malah ikut terbawa emosi sesaat? Monggo dipilih saja.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.