Skip to main content

Game Level 1 - Komunikasi Produktif (3)

Thank God It's Saturday~ Artinya? Suami libur dan ada waktu buat bawa kami jalan-jalan 🙈 
Rencana hari ini adalah membeli celana dan batik kerja suami. Jadi ceritanya sih kami ke tempat makan dahulu, baru setelah itu belanja. Mendekati waktu berangkat, ternyata Fatih terlihat mengantuk. Suami mengira-ngira, "Fatih bakalan rewel gak ya?" Berbekal pengalaman yang sudah-sudah, kalau Fatih mengantuk terus diajak belanja baju atau apapun yang bakal pilamaeun pasti ada momen doi susah diatur dan rewel. Efeknya? Belanja berasa diburu-buru, suami dan saya merasa lelah, anak juga tantrum.

Akhirnya saya dan suami sepakat untuk tetap berangkat. Fatih bisa tidur di motor atau nanti digendong saja kalau mengantuk. Tugas awalnya adalah, memberikan Fatih pengertian sejelas-jelasnya kemana tujuan kita dan apa yang kita ingin Fatih lakukan. Di-briefing dulu lah ceritanya 😂 
Me    : "Ka, kaka mau ikut beli baju papa gak?"
Fatih : "Mau ikut!"
Me    : "Tapi kalau mau bobo bilang ya. Nanti di ais."
Fatih : "Iya."
Me    : "Sekarang kita pergi mamam bebek dulu ya. Kaka duduk sama mama mamam bebek."
Fatih : "Iya."

Kamipun berangkat ke tempat makan dan Fatih pun menurut untuk duduk dan ikut makan. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke pusat perbelanjaan. Selama perjalanan, Fatih bertanya lagi akan pergi kemana. Saya akhirnya sounding kembali bahwa kita akan beli baju papa dan berkali-kali bilang jika ingin tidur bilang agar nantinya Fatih digendong.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, saya dan suami mengingatkan lagi Fatih apa yang akan kita lakukan.
Papa   : "Kaka mau kemana ini? "
Me     : "Mau beli apa ka?"
Fatih  : "Baju buat papa!"
Me     : "Yuk kita cari baju buat papa yuk!"
Yang namanya anak-anak ya, saat ketemu tempat luas pasti inginnya lari-lari. Jadi pembagian tugasnya adalah, suami cari yang cocok, nanti saya yang ACC, 😎. Saya mencoba mengajak Fatih mencari baju untuk papanya sambil mencari warna. Kalau mulai terlihat bosan dan cari perhatian dengan lempar-lempar topinya, saya pura-pura main ucing sumput di antara lorong-lorong pakaian. Pokoknya udah sebodo amat dah sama yang lihat 😂 
Selain itu, masuk ke ruang ganti adalah hal yang menyenangkan untuk Fatih. Sambil papanya coba-coba baju, saya dan Fatih main-main dengan cermin di ruangan itu. Intinya adalah, buat kegiatan belanja semenarik mungkin. Jadi mamak dan bapak bisa belanja sepuasnya, hahaha~

Ternyata efektif sekali belanja kami hari ini. Suami bisa pilih dan coba berkali-kali tanpa drama Fatih kabur atau rewel ingin keluar dari tempat belanja. Mumpung bageur akhirnya kami lanjut membeli sepatu untuk Fatih. 

Papa  : "Ka, mau beli sepatu buat kaka gak?"
Fatih :  "Mau!"

Dan seperti biasa, suami yang memilih, saya yang ACC ðŸ™Š Fatih excited pilih-pilih dan coba sepatunya sendiri. Akhirnya dapat satu model yang pas dan akhirnya dibeli deh.
Setelah ini selesaikah? Oh beluuuuum. Mamak juga pingin belanja dong 🙊 Fatih pun minta digendong oleh saya.
Fatih   : "Mama, kaka mau ais."
Me      : "Cape ya? Kaka ngantuk?"
Fatih   : "Kaka cape."

Lalu kami turun satu lantai dan giliran saya yang memilih, suami yang acc, hohoho~ Selagi memilih, ternyata Fatih tertidur. Alhamdulillah punya suami pengertian, tanpa diminta langsung kasih kode untuk tukeran gendong Fatih dan saya pun leluasa untuk memilih. Dan begitulah akhir agenda belanja kami~ Alhamdulillah lancar tanpa drama sedikitpun~

Dipikir-pikir, komunikasi pas weekend itu lebih menantang 😂 Soalnya komunikasinya intens antara saya, suami, dan anak. Pokoknya, komunikasi yang anti macet adalah koentji. Daaaan masih ada hari Minggu sebelum kembali ke rutinitas di hari Senin. Semangat menyongsong tantangan esok hari~

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.