Skip to main content

Game Level 6 - Math Around Us (10)

Bismillah.

Alhamdulillah hari ini bisa pulaaaang~
Tantangannya adalah, harus bisa bedrest selama satu minggu di rumah. Suami mulai kerja lagi besok, yang berarti ku cuma berdua aja ama Fatih.

Butuh bala bantuan dong yaa. Mamaku datang deh dari Bandung 😂 Sambil di jalan pulang, saya sounding ke Fatih kalau nanti ada Umi di rumah. Jadi, nanti Fatih perlu apa-apa bilang ke Umi. Harus nurut sama Umi. Lalu Fatih bertanya, "Kalau kaka sama mama, nanti mama sakit lagi? "Sekarang mama udah sehat? Dede bayi gak nangis lagi?" Ya saya jawab iya, Fatih harus baik, jangan rewel. Mungkin dia inget pesan papanya, "Kalau cerewet gapapa? Kalau rewel gak boleh?" Ya saya jawab iya lagi, lalu bertanya kalau rewel nanti saya gimana. Jawabannya, "Kalau kaka rewel, nanti mama sakit lagi, gitu?" Ya saya jawab iya lagi 😂

Sampai di rumah alhamdulillah Fatih nepatin janji, kecuali pas bagian makan ternyata keukeuh maunya disuapin saya padahal lagi mual pusing 😂 Tapi tetep aja, "Tapi kaka baik, kaka mau mamam, tuh hebat mamamnya abis." Errrr ya ya ya 😂

Ya alhamdulillah dikit-dikit udah paham tentang logika ya. Mana yang betul mana yang engga, akibatnya apa. Semangat ya nak!


Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.