Skip to main content

Game Level 5 - Pohon Literasi (4)

Bismillah.


Bandung~ Selepas papanya upacara 17an, kami lanjut perjalanan ke Bandung. Tujuan pertama adalah rumah eninnya Fatih. Saya gak bawa buku sama sekali, terus gimana dong? Ya gak gimana-gimana sih, kita coba lihat aja apa sih yang Fatih dapat dari buku yang sudah dibacanya.


Adalah buku ini yang susah payahlah kami mendapatkannya. Tiap ke Gramedia Karawang maupun Bandung, selalu kehabisan. Pas kebetulan ada Liga Buku Bandung, buku ini stoknya melimpah~ Cusslah langsung dibeli berhubung jadi buku incaran sedjak lama~

Pas dilihat isinya.....hmmm...ternyata isinya mengajarkan untuk shalat di masjid. Jadi ceritanya ke masjid untuk shalat subuh dan anak dalam cerita tersebut ikut ayahnya untuk shalat di masjid. Nilai yang mempengaruhi Fatih? Fatih bisa mengkorelasikannya dengan pengalaman dia dibawa shalat berjamaah. Di rumah eninnya, Fatih ikut shalat Maghrib dan Isya berjamaah di masjid. Kalau di Karawang belum dibawa ke masjid. Papanya gatel banget pingin nyunat dulu anaknya, hahaha.

Dari buku itu bisa diambil pelajaran kok kalau ke masjid itu untuk ibadah, untuk shalat. Anak-anak juga ikut shalat, gak main atau lari-larian. Alhamdulillah, Fatih ikut shalat dari awal ampe akhir, kecuali yang Isya, katanya digangguin ama anak cewe yang gemes ama Fatih 😂

Baca buku lalu mengaitkannya ke pengalaman anak jadi hal yang menarik dan membuat anak senang membaca. Anaknya jadi kebayang kaya gimana, kalau ada hal baru dibuku, anaknya penasaran. Semangat membaca ya!

#hari4
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#PohonLiterasi
#KuliahBundaSayang
@institut.ibu.profesional

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.