Skip to main content

Rezeki

Sering banget denger "Allah tidak memberikan apa yang kita minta, tapi apa yang kita butuhkan." Butuh waktu lama, sampai akhirnya sadar arti dari kalimat tersebut. 

Ceritanya, tadi pas lagi motong-motong sayuran buat makan malem tiba-tiba kepikiran hal beginian. Ko dulu aku bisa dapet ranking ya, ko bisa ikutan lomba ya, ko bisa dapet beasiswa ya, dan ko ko ko lainnya dan berujung pada tatapan kosong ke sayuran yang hampir beres dipotongin #cailaaa

Terus tiba-tiba flash back sama kejadian-kejadian dulu. Intinya, aku ngerasa malu banget ko dulu songong ya :( Maksudnya, just because I've been there, it doesn't mean gue lebih baik daripada lo yang belum pada ngalamin yee. Ya gitu-gitu lah, astagfirulloh hamba banyak dosa ya Allah :(

Padahal, kalau dirunut lagi ke jaman dulu, I shouldn't be over-proud of myself. Dengan dikasih kemudahan dalam menyerap pelajaran, public speaking, dll, itu adalah caranya Allah untuk membukakan pintu rezeki aku. Ketika Bapak, satu-satunya tulang punggung keluarga, meninggal waktu aku kelas 6, gaya hidup mulai berubah. Ga ada pensiun, ga ada simpenan, alhamdulillah masih ninggalin tanah sama kontrakan buat anak-anaknya. Duh, aku bayar sekolah darimana? Nah inilah bentuk rezeki dari Allah, bagaimana saya diberi kemudahan selama sekolah hingga akhirnya saya bebas biaya sekolah. 

Kenikmatan-kenikmatan lainnya berlanjut. Aku yang mana mungkin bisa nginep di hotel kalau gak karena ikutan lomba (plus dapet duit dan jalan-jalan keluar kota, hehe). Aku yang mana mungkin bisa lanjut kuliah kalau nilai rapor, UN, sama sertifkat lomba ga bagus dan ga ada. Aku yang mana mungkin bisa keluar negeri kalau ga dibiayain pemerintah 😂 Semua runtutan kejadian itu gak akan terjadi kalau bukan atas izin Allah dan alur rezeki yang Allah garisin buat aku.

Betapa ga tahu dirinya saya ini kalau masih sombong bilang semua itu saya dapetin dari usaha sendiri. Ya emang usaha sih, berdarah-darah juga 😂 Tapi ada juga kan yang lebih berusaha dan lebih berdarah-darah kalau bukan rezekinya sebesar apapun usahanya bakalan mentok disitu-situ aja?

Setelah zone out beberapa lama, akhirnya sadar juga. Mungkin sekarang rada telmi atau ga pede ngapa-ngapain karena rezeki yang Allah titipin selama sekolah kemarin diambil lagi 😂😂😂 Mungkin, dulu dengan tertutupnya satu pintu rezeki melalui orang tua, maka dibukalah pintu-pintu lainnya melalui cara yang berbeda. Nah Allah pasti tahu apa yang aku butuhin saat ini. Bukan fokus di kemampuan akademik lagi, tapi....ya mudah-mudahan saya dikasih rezeki yang memang saya butuhkan saat ini.

Ya Allah, wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu. Wahai Dzat Yang mengarahkan hati, arahkanlah hatiku untuk mentaatiMu.

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.