Begitu banyak pilihan yang ditawarkan untuk perempuan dalam Islam, tinggal kitanya, mau memilih jalan yang mana?
Sebut saja Aisyah ra, istri Rasulullah SAW, yang cerdas, memiliki ingatan yang kuat, memiliki kelebihan di beberapa bidang ilmu, juga menjadi guru bagi sahabat-sahabat Rasul hingga akhirnya setelah selesai singgah di dunia ini beliau bergelar ummul mukminin. Atau ada juga Nusaibah binti Ka’ab atau Ummu Imarah, seorang perempuan yang juga bergelar sebagai mujahidah yang paling banyak berperang bersama Rasulullah. Dan mereka adalah sebagian kecil dari perempuan-perempuan tangguh yang kisahnya tidak hanya menunjukkan bahwa mereka bukan hanya seorang ibu rumah tangga yang tetap menjalankan kewajibannya di rumah, tapi mereka juga tampil di ranah publik. Tidak dipungkiri pada zaman sekarang ada pula sosok-sosok wanita kuat yang harus menafkahi keluarga karena menjadi single parent, atau mereka yang rela melayani umat karena pada ranah tertentu keahlian perempuan dibutuhkan seperti menjadi dokter kandungan. Ingin sekali rasanya menjadi seperti mereka yang memiliki “karir.” Namun kembali pada nilai Allah, apakah tujuan kita melakukan itu semua? Berorientasi pada duniakah? Atau akhirat?
Kalau yang dikejar hanya urusan bekerja, saya merasa mendidik 3 anak ini sudah bekerja melebihi direktur perusahaan sebesar apapun. Priceless tidak ada yang bisa menyamainya. Tapi kalau urusannya rejeki, pola pikir berikut ini yang saya terapkan. "Allah sudah menjamin rejeki setiap manusia, termasuk kita, bahkan anak yang baru lahirpun sudah memiliki rejeki, maka mengorbankan amanahNya, melupakan ketaatan padaNya, demi mengejar sesuatu yang sudah dijaminNya, adalah sebuah kekeliruan besar." Akhirnya sekarang saya memahami bahwa mendidik anak, berkarya dan menjemput rejeki itu adalah satu tarikan nafas, tidak ada yang dikorbankan.
-Septi Peni Wulandani-
Yang perlu digaris bawahi adalah niat dan usaha kita dalam prosesnya. Bagaimana dengan kesibukan yang ada, kewajiban kita terhadap keluarga tetap terpenuhi dan suami ridha pada kita.
Saya sendiri masih perlu banyak belajar dengan pilihan hidup menjadi ibu rumah tangga. Karena belajar menjadi seorang ibu rumah tangga di kehidupan ini tidak sama dengan ketika kita menekuni ilmu di sekolah. Ujiannya mendadak, latihannya setiap waktu, prakteknya setiap hari. Jika hanya menilai berdasarkan kacamata manusia, penilaiannya tidak pasti. Seringkali ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin dan hasilnya bagus, penilaian manusia sebatas pada penekanan bahwa itu memang sudah tugas sang ibu, minim apresiasi. Namun jika ada sedikit saja kesalahan, sudah pasti akan banyak telunjuk yang mengarah pada sang Ibu. Pun, ketika seorang ibu tidak mampu menjalankan perannya dengan baik, imbasnya bisa saja langsung pada suaminya bahkan masa depan anaknya. Perlu diingat bahwa seorang Ibu merupakan pendamping suami dan madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Saya dan suami belajar bersama-sama menemukan visi dalam kehidupan berumahtangga ini. Begitu jelas cita-cita kami yang ingin berkumpul bersama di Jannah nanti, begitu besar juga godaan yang mengaburkan arah ke tujuan tersebut. Perlu rasanya bagi saya untuk terus belajar, lulus pada setiap ujiannya, berubah ke arah yang lebih baik dari waktu ke waktu, berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik dalam menjalankan perannya, yang membuat Allah ridha karena suami ridha pada istrinya.
Jika ditanya ingin menyandang gelar sebagai apa setelah selesai singgah di dunia ini, saya akan menjawab bahwa saya ingin bergelar ibu rumah tangga yang mampu menciptakan ladang pahala di rumahnya, membawa keluarganya ke surga.
Comments
Post a Comment