Skip to main content

Catatan Keuangan

Waktu kecil, saya sering lihat mama menulis dengan tekun setiap malam. Akhirnya karena kepo nanya juga ke mama, nulis apa sih? Ternyata isinya semacam catatan pengeluaran pada hari itu. Kalau ditanya emang sering ya nulis-nulis begitu, ya mama tiap malem emang begitu aktivitasnya. Mungkin nanti bisa dilihat kompilasi bukunya dari edisi 1 sampai tak terhingga 😂

Kebiasaan mama ini kalau gak salah sih dimulai waktu mama sama bapa LDR-an gitu. Bapa kerja di Jakarta dan pulang seminggu sekali (Ya ampun kebayang ya capenya, si gue aja sekarang yang ada Cipularang suka cape gitu bulak balik Bdg-Krw seminggu sekali, apalagi jaman dolo belum ada tol). Jadi, katanya biar tahu uang abis berapa perbulannya dan bisi bapa nanyain uangnya dipake apa aja. Meskipun in the end he never asked and even took a look at her journal. Ya katanya sih ngapain juga ditulis cape-cape. Toh bapa percaya mama bisa manage uang biar cukup buat 5 anaknya. Kalau kurang tinggal minta lagi. Ya tapi hal itu g ngubah kebiasaan mama untuk tetep nulis pengeluaran sama pemasukan uang bulanan, lebih ke ada rasa bertanggung jawab karena dititipin uang karena mama sendiri g ngehasilin uang, hehe~

Kebiasaan mama ini kebawa sampai sekarang meskipun udah berganti pasangan (yes, my dad passed away a looong looong time ago and my mom got married again last year). Pas ditanya kenapa, ya karena itu tadi sih, mama cuma nerima uang, dan takut ditanya uangnya abis dipake apa aja. Daaaaan memang kejadian juga, mama pernah nangis terus cerita karena ditanya uangnya kok udah abis lagi? dipake apa aja? Yang dimana menurutku seharusnya mama senang karena akhirnya kebiasaan mencatatnya akhirnya kepake juga 😂 Canda~

Mama bilang sih, sebetulnya soal uang ini sama bro-bro-annya dengan bapa dulu. Cuma mungkin ini pertama kalinya she felt broken hearted for not being trusted. Catatannya yang sebetulnya berguna jadi bumerang untuknya sendiri. Ups jadi ngomongin rumah tangga orang~

Maksudnya gak ke situ kok. Ini justru jadi pelajaran buat saya. Saya juga masih harus belajar buat mengelola keuangan rumah. Betapa pentingnya mencatat pengeluaran dan pemasukan setiap harinya. Jadi tahu, sebetulnya uang itu abis dialokasikan untuk apa sih dan untuk bulan depan gimana biar bisa saving atau paling engga pengeluarannya gak sebesar bulan ini, secukupnya saja. Keadaan saat ini mungkin beda sama waktu dulu saya kerja nyari uang sendiri, ya dipake buat menuhin kebutuhan sendiri. Meskipun dulu gaji pas-pasan dari ngajar privat dan beasiswa, tapi minimal saya gak membebani ekonomi di rumah lagi, bisa menuhin kebutuhan sendiri. Syukur-syukur bisa ngasih ke mama dan adik. Jadi inget dulu itu bisa bawa mama sama adik makan makanan mahasiswa macam ramen dan ke Limamu, bahkan sekali bawa ke yang mahal Pizza Hut pake duit sendiri itu rasanya waaaah sekali. Intinya, saya bertanggung jawab atas keuangan diri saya sendiri.

Bedanya dengan saat ini adalah, saya gak kerja. Keuangan bersumber dari suami. Di fase inilah saya mengerti apa yang mama saya rasakan dulu. Kenapa sih harus banget kita nyatet pengeluaran selain takut ditanya uangnya dipake aja. Ya biar jadi pembelajaran juga buat bulan selanjutnya. Terus ya jadi bentuk tanggung jawab kita sama pengelolaan keuangan rumah tangga. Daaaan ternyata si akuh masih ga becus juga ngelolanya padahal udah 3 tahun kewong, huhuhu~ Ko duit sekian bisa abis dalam beberapa hari doang? 

Pingin banget berguru sama teteh saya yang kedua. Doi dengan satu suami dan dua anak bisa cukup 600-900 ribu buat belanja bulanan. Bulanan lho ya sebulan ituuu. Lha gue? Bisa seminggu-dua minggu udah abis :( Harga ayam mahal sih, haha. Yang pasti, bener sih kebiasaan mencatat keuangan itu hal yang penting buat bu ibu macam saya. Yang kalau ada diskon pingin beli, yang kalau lagi mood bisa belanja buat nyoba resep baru. Yang seneng belanja buat keluarga, tapi suka itungan kalau buat diri sendiri. Like, I feel full of guilt gitu kalau pingin beli sesuatu buat diri sendiri apalagi harganya MAHAL kaya make up, wkwkwk ya ealaah.

Yokk semangat mencatat keuangan~

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.