Ketika orang lain yang membaca sebuah cerpen/novel/buku itu hanya sekedar membaca dan menikmatinya (reading for pleasure), ketika orang lain menonton sebuah film lebih pada menikmati jalan ceritanya atau kegantengan aktornya #uhuk, ketika orang lain berbicara dengan lancar tanpa memilah-milah kata maupun berfikir dampak dari ucapannya....
Saya belajar membaca bahasa. Setiap bahasa yang diucapkan akan direkam (meskipun ingatan saya mungkin kurang baik, haha) dan dipikirkan (nah ini) apa maksudnya. Sekalipun mungkin hanya sebuah bercandaan. Karena bukankah bercanda pun dapat dilakukan secara elegan? bukan dengan hal yang bisa saja menyakiti orang lain seperti yang banyak dimunculkan di televisi-televisi saat ini? Zaman memang berbeda, sih. Ketika zaman dulu lisan lebih banyak dijaga, ketika marah-marah bukan lagi dengan teriakan, ketika bercanda memiliki batasan, saat ini semuanya jadi tidak beraturan.
Efek overthink ini pasti dianggap berlebihan (yaealah namanya juga over). Kami juga belajar kok mengenai kaitan latar belakang/karakter seseorang terhadap penggunaan bahasanya. Mungkin sebagian orang menganggap hal itu biasa karena itulah latar belakangnya. Tapi yang perlu diperhatikan ketika hal itu tidak baik, apakah masih harus dimaklumi?
Kepanjangan postnya. Belum beres sih sebenernya. Tapi yasudahlah.
So, watch your words.
Mahasiswa bahasa (khususnya saya) tidak cukup hanya membaca dan menikmati sebuah cerpen/novel/buku. Kami harus mempreteli elemen-elemen di dalamnya dan memahami dengan seksama maksud dari ditulisnya cerpen/novel/buku tersebut yang sering kami sebut Close Reading.
Kami juga tidak hanya duduk manis di bioskop, menonton film, nyemil, lalu pulang, bercerita tentang cerita di film, selesai. Kalau kata dosen Foundation of Literature sih, ketika menonton film, kami juga harus "membaca" film tersebut.
Kami juga tidak hanya sebatas berbicara dan mendengarkan. Suara dan nada bicara dibentuk sebaik mungkin. Setiap pemilihan diksi, pemilihan intonasi, gaya berbicara, semua itu mengandung arti karena itulah fungsi bahasa. Menyampaikan pesan.
Ribet, ya? Iya.
Hal-hal di atas punya kesamaan, semuanya diteliti dan dikaitkan dengan latar belakang penulis/pembicara, sejarah, dan semuanya memiliki arti.
Sebut saja misal cerpen The Kiss milik Kate Chopin. Awal membaca yang kami dapat hanya seorang wanita yang aneh karena suaminya meninggal tetapi malah bahagia. Endingnya juga tidak jelas, apa dia bahagia karena suaminya ternyata masih hidup atau karena kekecewaannya. Tapi dengan Close Reading tadi, mengaitkan dengan latar belakang penulis juga sejarah pada era tersebut, muncullah pesan dimana maksud dari penulis tersebut adalah menggambarkan kaum wanita yang pada saat itu masih rendah dan direnggut kebebasannya setelah menikah. Pun budaya (kalau tidak salah negaranya) Perancis yang menikahkan putra dan putri mereka berdasarkan harta, bukan cinta. Pesan-pesan seperti itulah yang sebenarnya ingin dimunculkan oleh penulis. Karakter di dalamnya juga memiliki pesan, dimana adiknya Louis merupakan karakter pembanding dirinya dan Richards adalah karakter penggambaran sosok pria seharusnya. Bukan sekedar menceritakan nasib malang seorang wanita yang akhirnya mati setelah mengetahui suaminya hidup.
Bukankah seorang penulis tidak asal menulis tapi juga menyampaikan pesan melalui tulisannya?
Penulis yang baik adalah penulis yang mampu menyampaikan pesan hingga pembacanya ikut terlarut di dalam ceritanya.
(Ini nih sebenernya poin yang penting dalam post ini)
Begitupun dengan hal berbicara dan mendengarkan. Banyak orang yang berbicara seenak udelnya. Banyak yang berbohong. Banyak yang menyindir. Banyak yang diam.
Perilaku itu secara tidak langsung diajarkan kepada kami. Dari mata kuliah PPD saja, pembentukan karakter orang itu bisa dimulai dari bahasa. Pun bahasa yang digunakan kepada anak, teman, orang tua, semuanya dapat dibaca.
Perilaku itu secara tidak langsung diajarkan kepada kami. Dari mata kuliah PPD saja, pembentukan karakter orang itu bisa dimulai dari bahasa. Pun bahasa yang digunakan kepada anak, teman, orang tua, semuanya dapat dibaca.
Intonasi, pemilihan kata-kata, dan sesuai atau tidaknya hal tersebut diucapkan seringkali saya pikirkan, saya teliti, dan saya tangkap maknanya.
Saya bukan ahli bahasa, bukan. Tapi setidaknya, saya sudah mencoba untuk lebih menjaga bahasa saya.
Saya bukan ahli bahasa, bukan. Tapi setidaknya, saya sudah mencoba untuk lebih menjaga bahasa saya.
"Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau - kalau tidak dapat berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja." (H.R. Abu Hurairah)
“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”Jahat ya? Iya. Jahat karena saya pake memasukkan hadits segala dalam postingan ini. Tapi ini yang saya pelajari dan mengerti. (Terima kasih Bapak Iman, dosen SPAI yang selalu menginspirasi)
Saya belajar membaca bahasa. Setiap bahasa yang diucapkan akan direkam (meskipun ingatan saya mungkin kurang baik, haha) dan dipikirkan (nah ini) apa maksudnya. Sekalipun mungkin hanya sebuah bercandaan. Karena bukankah bercanda pun dapat dilakukan secara elegan? bukan dengan hal yang bisa saja menyakiti orang lain seperti yang banyak dimunculkan di televisi-televisi saat ini? Zaman memang berbeda, sih. Ketika zaman dulu lisan lebih banyak dijaga, ketika marah-marah bukan lagi dengan teriakan, ketika bercanda memiliki batasan, saat ini semuanya jadi tidak beraturan.
Efek overthink ini pasti dianggap berlebihan (yaealah namanya juga over). Kami juga belajar kok mengenai kaitan latar belakang/karakter seseorang terhadap penggunaan bahasanya. Mungkin sebagian orang menganggap hal itu biasa karena itulah latar belakangnya. Tapi yang perlu diperhatikan ketika hal itu tidak baik, apakah masih harus dimaklumi?
Kepanjangan postnya. Belum beres sih sebenernya. Tapi yasudahlah.
So, watch your words.
Comments
Post a Comment