Skip to main content

Mata Kuliah Nyata: Exploring Prose "SPEAK"

Mata kuliah ini mungkin bisa menjadi salah satu mata kuliah favorit (bakalan bener-bener jadi favorit kalau nanti dapet A, haha) karena apa yang dipelajari itu bukan cuma tentang teori atau analisis teks tapi juga banyak quote dan pandangan terhadap kehidupan sekitar. Hari ini yang dibahas bukan cerpen, tapi novel yang difilmkan, judulnya "SPEAK". Ceritanya tentang Kristen Stewart muda yang mendadak menjadi pendiam setelah being raped di pesta musim panas. Banyak hal yang bisa diambil dari cerita ini. Salah satu quote setelah kita mempreteli film ini yaitu:
"Word choice, tone, and voice all contribute to saying a lot more than simply what is on the surface"
Yep. Itu yang kita pelajari hari ini. Apa yang diperankan oleh Kristen Stewart menggambarkan psikologi anak muda yang takut untuk berbicara akan sesuatu yang dialaminya. Mereka lebih banyak memilih diam dan menghindar. Pun kebanyakan orang dewasa malah memaksa mereka untuk berbicara tanpa mau memahami dan melakukan pendekatan untuk mengetahui ada apa dengan anak tersebut. Diam pun memiliki arti, dimana diam merupakan pilihan baginya karena ia tahu, tidak akan ada yang percaya dirinya.

Padahal, dari bahasa, kita dapat mengetahui kapan orang itu sedang marah dari tone nya, sedang sedih dari suaranya, dan sedang galau dari word choicenya (ya biasanya yang galau itu mendadak bijak :p )

Selain itu, ada juga yang namanya Interior Monologue, semacam internal dialog yang banyak terjadi disetiap individu. Melinda (yang diperankan Kristen Stewart) benar-benar menjadi pendiam. Tetapi diamnya ia bukan berarti diam menerima dan lemah, justru dalam diamnya ia banyak berbicara pada dirinya sendiri dan hal itulah yang membuat ia kuat. Quote lainnya:
"What someone is thinking is very different from what that person is saying or doing"
Dari kutipan diatas, bisa diambil kesimpulan: Siapa yang tahu isi hati orang?
Tapi pikiran dan isi hati seseorang itu bisa tercermin dari bagaimana ia berkata dan juga berperilaku :)


Selain itu, dalam film ini digambarkan bahwa diam bukan berarti reseptif. Diam juga digambarkan sebagai sesuatu yang produktif. Kenapa? karena selama diam, kita banyak melihat, mengobservasi, merasa, dan akhirnya mendapatkan jawaban atas apa yang harus kita lakukan.
"Women bear their griefs, burdens, and fears in a legacy of silence."
 Dijelaskan pula bahwa dalam paham maskulinitas itu (termasuk dibudaya Sunda maupun Jawa) bahwa woman is being silenced. Perempuan itu tidak banyak berbicara karena perempuan itu harus manis, ramah, lembut, dan juga penurut. Sekalinya berbicara, haruslah berkata yang baik dan lembut. Berbeda dengan pria yang digambarkan sebagai sosok yang tegas, kuat, dan tidak cengeng :'D Meskipun kita tahu pria juga manusia, namun pada realitanya, pembentukan karakter dan bahasa pada pria dan wanita memiliki batasannya masing-masing.

Perempuan kadang menjadi kuat. Hal itu karena perempuan meminjam atribut laki-laki. Maksudnya, perempuan akan dipandang menjadi kuat ketika ia "seperti" laki-laki. Para pria pun tidak akan memandang ia sebagai wanita ketika ia berbahasa 'kasar' ataupun berpakaian seperti laki-laki. Karena memang seharusnya wanita itu berbahasa yang baik dan lembut. Bukankah banyak anak yang turut berperilaku kasar dan tidak berbahasa karena pengaruh bahasa yang digunakan oleh ibunya?

2 SKS mata kuliah ini sepertinya masih belum cukup untuk mengupas "SPEAK". Tidak hanya mempelajari tentang arti diam, namun di film ini juga digambarkan mengenai arti "Friendship".
"Everybody's friend is no body friend"
Maksud kutipan diatas adalah ketika ia berteman dengan siapa saja, itu berarti ia tidak mempunyai teman. Siapa teman dekatnya?
Isu friendship yang diusung adalah ketika Melinda ditinggalkan oleh temen-teman baiknya dan memiliki teman bernama Heather.
Pada bagian ini, terdapat pelajaran baru mengenai pertemanan:
Pseudo-friend. Friend as accessory.
Dalam penjelasannya, kategori ini dari permukaan terlihat seperti "sahabat". Padahal "katanya" pseudo friend ini hanya untuk membuat kamu tidak terlihat "bodoh" karena sendirian. Fenomena ini dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari ketika ada seseorang yang kemana-mana sendiri, waktu di SMA misalnya, tentu kita yang melihat akan bertanya-tanya, "kok dia sendirian terus? ga punya temen gitu ya?" ya kurang lebih seperti itu.

Pseudo-friend itu tidak berarti fake-friend. Hanya saja akan menjadi teman di saat-saat tertentu. Saat memiliki hobi yang sama atau untuk teman berbelanja, misalnya. Dicontohkan di kelas itu seperti segerombolan perempuan yang memiliki hobi berbelanja akan menjadi sekelompok teman. Sepenangkap saya sih, ini seperti teman yang ada saat butuhnya saja, eh, atau mungkin teman yang hanya menghampiri ketika ia tidak ada teman untuk melakukan sesuatu, mungkin :/
Hal ini bisa berpengaruh negatif pada relasi pertemanan yang lainnya, hubungan pertemanan yang lebih intim dari pseudo-friend.

Untuk SPEAK cukup sampai disini. Minggu depan kita masih ada "The Chrysantemums" dan "Rose for Emily" untuk dikuliti #ish.

"Sometimes, silence means everything. More than words."

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.