Skip to main content

GERD

Satu minggu lebih. 

Satu minggu waktu yang aku butuhin sampai akhirnya pergi ke dokter. Setelah setiap hari ngerasa sakit di dada dan selalu berpikir "Ah besok mendingan mungkin ya," atau "Masuk angin aja sih ini mah kayanya," akhirnya datang waktu aku bilang ke diri sendiri, "Ini kayanya emang ada yang salah deh, periksa aja kali ya?". Padahal suami udah dari kapan nyuruh periksa, tapi aku takutnya gak sakit apa-apa cuma masuk angin eeeh manja nian sampe ke dokter 😂

Pas banget ama Hanna Hanif kena cacar, aku udah kewalahan ya sakit dada, ya ngurusin anak-anak. Akhirnya mama to the rescue~ Mumpung mama di rumah cus pergi ke klinik juga. Abis ditanya-tanya ama dokter di klinik, dokternya langsung bilang, "Saya rujuk ke RS aja ya?" Ya mungkin emang gak keliatan sih sakitnya apa jadinya disuruh ke RS. Nyampe RS nunggu dokternya lamaaaaaa banget. Aku terlalu rajin dateng pas jam prakteknya dimulai sesuai jadwal, di lapangan molor hampir 2 jam 🙃 

Yang aku takutin, sakit jantung atau paru-paru 🙈 Ya Allah anak-anakku masih kecil 😔 Udah mikir kemana-mana aja sih pokoknya. Tapi ada juga kepikiran, eh gimana kalau ga kenapa-kenapa? Ya alhamdulillah sih, cuma asa malu aja ke dokter tapi gak kenapa-napa 😂

Abis nyampein keluhannya apa aja, disuruhlah buat EKG. Hasilnya abnormal. Dan baru ngerti sekarang (pas mau kontrol lagi) apa yang dimaksud dokter sama hasil EKG itu. Terus diperiksa, dan hasilnya GERD. Yelah maag nya naik level 🙃

Ini asli lama banget aku di luar dari klinik sampe beres dari RS. Yang di rumah udah "meni teungteuingeun". Ya gimana dong emang lamaaaaaa prosesnya :") Terus pas ditanya ama yang di rumah, "Jadi sakit apa?" Aku jawab, "Gerd."

Gerd teh apa? Pake bahasa Indonesia aja atuh

Aku gak so' Inggris ko :") Emang disebutnya begitu 😔 Soalnya kalau dibilang penyakit asam lambung doang kadang ngehnya maag, padahal beda.

GERD (gastroesophageal reflux disease) atau penyakit asam lambung disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter yang terletak di kerongkongan bagian bawah. Normalnya, katup ini akan terbuka untuk memungkinkan makanan serta minuman masuk menuju lambung dan dicerna. Setelah makanan atau minuman masuk ke lambung, katup ini akan tertutup kencang guna mencegah isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Namun pada penderita GERD, katup ini melemah, sehingga tidak dapat menutup dengan baik. Hal ini mengakibatkan isi lambung yang berisi makanan dan asam lambung naik ke kerongkongan. Apabila kondisi ini terjadi terus-menerus, lapisan kerongkongan akan mengalami iritasi hingga peradangan dan lama kelamaan menjadi lemah. Sumber: Alodokter GERD

Jadi yang aku rasain itu sakit dada, dada berdebar, susah dan sakit nelen (sakitnya pas di dada, bukan tenggorokan). Di satu sisi tenang, bukan sakit jantung atau paru-paru. Di sisi lain lah Gerd juga kalau udah kambuh gak main-main sakitnya. Cuma aku terlihat kuat aja 💃🏻Ai udah goleprak di kasur ngerasain sakit mah ya gitu tea weh padahal mah 🙈

"Yak mba Dena, ini Gerd jadi kita bakalan sering ketemu ya soalnya pengobatan lambungnya bisa 1-2 bulanan." Ku males minta rujukannya doook 🤣 Karena kalau buat dapet obatnya mah mau-mau ajaa 🙃

Ku kira bakalan kaya maag aja gitu sakit seketika terus beres. Ternyata ini merambat ke dada, leher, kepala. Gusti :")

Beneran deh jangan lupa bersyukur pas lagi dikasih sehat, jangan cuekin sinyal tubuh if you feel there is something wrong. They give you an alarm for sure. Yok sehat-sehat 💪🏼

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.