Skip to main content

Mengasihani Diri

Sembari menyusui si bungsu yang baru saja menangis karena terguling dari kasur, aku mengasihani diri sendiri.

"Jadi ibu itu tidak boleh sakit!" Begitu yang sering kulihat dan dengar semenjak jadi ibu. Di musim kadang hujan kadang panas ini 3 anak kompak sakit semua. Yang 2 sudah seminggu lebih batuk pileknya, yang kecil baru 3 harian, berbarengan denganku sakitnya. Seharian kemarin itu pusing, hidung mampet, sakit kepala sebelah, mata perih, sampai-sampai kerjaan rumah gak kepegang sama sekali. Rumah udah macam kapal pecah. Aku sampai ketiduran beberapa kali, terbangun karena kaget ingat anak-anak dimana, lagi apa. Tapi badan gak bisa diajak bekerja sama, berat untuk bergerak.

Dokter. Harus ke dokter, gak bisa kaya gini terus. Pun setelah ke dokter ya seperti biasa, sakitnya tidak jauh dari darah rendah dan radang. Jalan pulang terasa lama, kangen kasur, pingin rebahan, tapi penutupan jalan imbas PPKM begitu menjengkelkan hingga membuat kami harus berputar kesana kesini untuk sampai ke rumah. 

Pagi tadi aku bangun kesiangan. Mepet waktu anak sekolah dan suami bekerja. Rasanya aku jadi orang paling sibuk tiap pagi, sebal jika ada yang malah diam bukannya bergerak meringkas waktu persiapan dan kerjaanku. Setelah suami dan Fatih berangkat, aku bingung lihat rumah, ahaha. Hanna dan Hanif yang harus makan dan mandi, cucian piring, cucian baju, bekas-bekas muntahan, lantai kotor, sampah menumpuk, jemuran belum diangkat, baju yang harus dilipat, ya ampun..... banyak.

Waktu makan Hanna dan Hanif udah macam seabad, lamaaaa nian. Kotornya kemana-mana. Belum sempat air mendidih anaknya malah minta tidur lagi. Rasanya pingin ikutan tidur ke alam mimpi, tapi baru tutup mata rasanya mata perih, lalu teringat tumpukan cucian dan lain-lain. Lapar juga, komplit, hahaha.

Ah iya, nasinya habis. Belum masak nasi, belum cuci piring. Akhirnya gorengan dari warung tadi dimakan aja gak pake nasi, wkwkwk. Mayan ya buat ganjel. Barangkali nanti ada mamang ketoprak ku bisa beli, yang ternyata gak lewat-lewat sampai saat ini.

Selesai makan aku beres-beres ruang tengah, mencuci yang dengan mesin cuci. Bekas muntahan dan yang digusrek? Tar dululah...gapapakan ya?

Cuci piring berasa lamaaaa banget beresnya, kepala udah pusing, kalau duduk tangan tak sampailah 😂 Belum selesai eh anak-anak bangun, kakanya pulang dari sekolah. Gantian mandi, gantian juga mereka berontak ikut masuk kamar mandi. Gak kalah tuh yang bungsu mentang-mentang udah jago merangkak sana sini, kamar mandi pun diterabasnya. Tambah pusing kepala mamakmu, Nak.

Urusan dengan anak-anak dianggap selesai, mainlah sana kaliaaan~ Mamak mau beres-beres. Belum sampai 5 menit, yang bungsu udah ada di dapur menyusul. Taro lagi di ruang tengah bareng kaka-kakanya. Belum sampai 5 menit, nangis, jatuh ngeguling dari kasur, kaka-kakanya diam seribu bahasa. Sampailah juga pada postingan ini.

Kasihan, aku kasihan sama diri sendiri. Sabar ya, hanya sebentar, sebentaaar saja. Nanti pasti akan kangen dengan kericuhan seperti ini, dengan kerjaan yang menumpuk penuh harap bisa selesai sendiri.

Kamu hebat. Sini peluk dulu. Cepat sembuh ya, kamu dibutuhkan. Ladang pahalamu sedang berlipat saat ini. Luaskan sabarnya, luaskan ikhlasnya, karena yang bahagia melihat kosongnya keranjang cucian, hilangnya tumpukan cucian piring, tertawanya anak-anak, itu kamu. Kamu yang senang ketika merasa dibutuhkan, ketika menjadi tempat bergantung keluargamu. Rasa kasihan itu hanya sesaat, karena setelah berhasil aku tau kamu pasti puas. Sangat puas bahwa kamu memang kasihan, tapi kamu mampu. Sedikit-sedikit. Tidak apa-apa. Semangat, ya?

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.